|
Mr. Wegard Harsvik, Deputi Menteri, Kementerian Urusan Budaya dan Gereja Norwegia
Perjuangan untuk kebebasan berbicara tidak kurang pentingnya dan tidak kurang berbahayanya dewasa ini dibandingkan dengan dua tahun yang lalu, ketika Global Inter-Media Dialogue digagas. Tahun lalu, 86 orang jurnalis dan 20 pekerja media lainnya terbunuh. Ini merupakan suatu peningkatan yang dramatis dibandingkan dengan lima tahun yang lalu dan merupakan yang tertinggi semenjak tahun 1994. Jumlah total 1511 orang professional media telah diserang secara fisik, dan 67 orang diculik menurut Reporters Without Borders.
Angka-angka tersebut juga menunjukkan bahwa pertikaian bersenjata merupakan ancaman terbesar terhadap keamanan professional media. Lebih dari setengah dari jumlah tenaga jurnalis yang terbunuh tahun lalu meninggal di Irak, dan sebagian besar diantara mereka bekerja untuk media lokal. Situasi tersebut juga serius di Somalia, Sri Lanka, Republik Demokratik Kongo dan Afghanistan.
Salah satu dari contoh-contoh yang paling baru dari perjuangan demi kebebasan berbicara muncul bulan lalu. Seorang reporter dari harian the New York Times ditangkap di Zimbabwe saat “melakukan tugas jurnalisme”. Tuduhan terhadapnya adalah bahwa ia sedang “mengumpulkan, memproses dan menyebarkan berita”. Namun, sebagai seorang reporter internasional, ia lebih aman dibandingkan dengan banyak jurnalis lokal. Ia dilepaskan sesudah dua hari dan artikel sebanyak 10 halaman tentang pemilihan umum dimuat pada bagian teratas versi online dari NYT (the New York Times). Sayangnya, sejumlah jurnalis lokal yang tidak diketahui jumlahnya menderita nasib yang sama atau lebih buruk tanpa membuat pemberitaan sama sekali, jauh kurang dari kepala berita sekalipun.
Tetapi, reporter-reporter tidak harus bekerja dalam zona perang beresiko. Jurnalis investigatif dari Meksiko, Lydia Cacho, pemenang Hadiah Kebebasan Pers Dunia UNESCO yang terpuji, sudah menjadi target-target ancaman kematian, sabotase, tuntutan-tuntutan fitnah dan pelecehan oleh polisi, karena pekerjaannya yang membongkar rantai prostitusi dan pornografi anak-anak.
Sayangnya investigasi serangan-serangan fisik atas para pekerja media jarang berakhir dengan pengadilan atau penangkapan. Adalah vital bagi para pelaku kejahatan semacam ini ditangkap dan diajukan kepengadilan. Tahun ini pengadilan para tersangka pembunuh editor Hrant Dink di Turki akan amat penting. Suatu pengadilan yang layak tidak hanya akan mempengaruhi masa depan jurnalis di Turki tetapi juga dapat berfungsi sebagai suatu contoh kenegara-negara lain dimana para jurnalis sedang terancam.
Resiko para jurnalis Dibeberapa tempat, para jurnalis seperti dikelilingi dengan “lingkaran api”, dan setiap orang yang berbicara kepada jurnalis atau diwawancarai oleh mereka beresiko “terbakar” apakah itu pemerintah atau para aktor yang bukan-aktor negara tetapi berkuasa. Oleh karena itu kebebasan berbicara lebih banyak menuntut hak-hak dari pekerja media terhadap keamanan. Itu merupakan hak fundamental yang harus dinikmati oleh setiap orang.
Ancaman terhadap para jurnalis tidak hanya berbahaya bagi para jurnalis itu sendiri; ancaman itu berbahaya bagi suatu masyarakat keseluruhan – pada tingkat lokal - pada tingkat nasional – dan yang paling utama pada tingkat internasional. Karena membungkam para jurnalis mencekik aliran informasi. Kurangnya informasi mengakibatkan pengabaian. Pengabaian menciptakan kesalah-pahaman dan ketidak-percayaan. Dan, ketidak-percayaan seperti yang kita ketahui, melahirkan pertikaian. Albert Camus pernah menulis: “Kejahatan yang berada didunia selalu memunculkan pengabaian niat-niat baik bisa berbuat sama banyaknya dengan keinginan jahat (niat-niat buruk).” Jurnalisme yang baik dapat membantu kita memahami secara tepat pertikaian-pertikaian mana yang sungguh-sungguh jauh dan yang lebih dekat kelihatannya. Sungguh, mereka dapat membantu memberi pencerahan. Pertikaian mana yang menjadi bagian dari kita sendiri dan mana yang bukan bagian itu. Karena kadang-kadang secara tidak sadar kita merupakan bagian dari konflik yang lebih luas. Tetapi, aksi-aksi lokal mempunyai efek-efek global, sebagaimana diilustrasikan oleh kontroversi kartun, perubahan iklim dan meningkatnya harga-harga pangan.
Dengan demikian, saya berharap Global Intermedia Dialogue akan terus berlanjut untuk menantang ide-ide yang kita punyai mengenai “kita” dan mengenai “mereka” dan berusaha untuk memastikan bahwa mereka tidak pernah menjadi bersifat seperti batu. Norwegia mempromosikan kebebasan berekspresi saya turut mendorong agar Norwegia mengintensifikasi upaya-upayanya – dan berusaha untuk lebih strategis dalam mempromosikan kebebasan berekspresi.
Pertama, kami memohon untuk mengintensifikasi tanggapan kami terhadap ancaman-ancaman terhadap jurnalis dan pelecehan jurnalis. Ketika para jurnalis terbunuh sementara mereka melaksanakan pekerjaan mereka, kami akan menggunakan semua saluran yang mungkin ada untuk memastikan bahwa kebebasan dari hukuman tidak berlaku. Ini mempersyaratkan suatu kerjasama yang lebih erat baik dengan organisasi pers Norwegia maupun organisasi-organisasi pers internasional. Kami sedang mensponsori proyek-proyek media di Timur Tengah dan di Afrika Timur. Di Afghanistan kami mensponsori rumah para penulis di Kabul. Di Rusia the Norwegian Union Journalists membantu kalangan jurnalis dengan dukungan kami. Kami akan mendukung Global Investigative Journalism Conference 2008 di Norwegia pada bulan September. Dan dalam bulan Juni 2009, the Freedom of Expression Foundation, Oslo and the International Freedom of Expression Exchange (IFEX) atau Kebebasan Internasional Pertukaran Ekspresi akan menyelenggarakan suatu peristiwa kebebasan berekspresi global di Oslo. Kami bangga menjadi salah satu diantara para sponsor.
Kedua, kami akan meningkatkan pendanaan untuk upaya-upaya kebebasan ekspresi dan media yang independen sebesar NOK 15 juta atau 15 juta Krone Norwegia (atau sekitar US$ 3 juta). Dana-dana baru ini akan digunakan untuk mendorong kebebasan ekspresi dan media yang independen dinegara-negara yang sedang bertikai dan dinegara-negara dimana para jurnalis berada dibawah tekanan. Sekali lagi, kami akan bekerja erat dengan organisasi-organisasi media yang independen dan organisasi-organisasi kebebasan ekspresi.
Ketiga, kami akan mencari cara-cara yang layak untuk mengangkat issue ini kejenjang yang lebih tinggi sampai pada agenda internasional, dengan jajaran organisasi multilateral yang lebih luas. Kami juga akan berbuat yang seperti demikian juga dengan negara-negara lain yang berbagi dengan pendekatan kami.
Melembagakan dialog Hubungan internasional semakin terbentuk dengan orang-orang yang meminta pemerintahan mereka dan dengan demikian memantapkan kontak langsung dengan rakyat dinegara-negara lain. Ini tidak diragukan lagi merupakan suatu perkembangan yang positif. Kami semua menginginkan rakyat Negara kami mengadakan kontak dengan rakyat negara-negara lain. Tetapi, kami tidak akan bersikap naif, kontak kadang-kadang dapat mengakibatkan pertikaian. Tantangannya adalah bagaimana mengemukakan konflik-konflik semacam ini – seperti kontroversi kartun – yang wujudnya terutama bukan antar-pemerintah. Kami selama berabad-abad telah mengembangkan lembaga-lembaga internasional dimana para pemerintah dapat bertemu untuk menyelesaikan pertikaian-pertikaian dengan Negara-negara lain. Tetapi lembaga-lembaga antar-pemerintah ini tidak selalu memiliki perlengkapan dengan baik untuk merundingkan pertikaian dengan para aktor masyarakat sipil dari berbagai macam Negara.
Sesungguhnya, selama kontroversi kartun, banyak pemerintah Barat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan melibatkan diri mereka sendiri dalam apa yang telah dipublikasikan harian-harian. Pertikaian yang kami saksikan muncul selama kontroversi ini berbeda jenisnya, dan membutuhkan jenis dialog yang berbeda pula. Global Inter-Media Dialogue mewakili satu cara untuk melembagakan dialog semacam ini, sehingga kali berikutnya, muncul suatu konflik semacam ini, maka kami berharap tidak terlepas dari pengawasan. Untuk kontroversi-kontroversi baru yang pastinya akan muncul, dan kami mempunyai banyak issue yang tidak akan bersepakat. Tetapi, setidak-tidaknya kami akan mempunyai jaringan-jaringan dan kewaspadaan yang lebih besar serta pengertian untuk membantu kami ketika membicarakan ketidak-sepakatan ketidak-sepakatan ini, dan untuk mencegah agar pertikaian tidak memuncak dan memanas, keluar dari kendali.
Mengutip ucapan Maradonna, seorang ahli filsafat yang ternama, atau mungkin sedemikian ternamanya sebagai seorang ahli filsafat, ketika ditanyai apa yang membuat orang menjadi pemain sepak bola yang ternama atau besar: Yang penting bukan berlari dimana bola itu berada, tetapi saya berlari kemana bola itu akan pergi.” Para jurnalis didunia yang sedang mengalami kesulitan, saya berterimakasih untuk mengerjakan pekerjaan yang penting ini bersama-sama. Tahun ini Dialog akan berfokus pada Jurnalisme yang Beretika dalam Kondisi-kondisi yang Ekstrim: Tantangan atas Keragaman atau the Ethical Journalism on Extreme Conditions: The Challenge on Diversity.[]
|