NEWS FLASH
Tantangan-tantangan Etika untuk Lanskap Media yang Berubah Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Mei 2008
Sunday, 23 August 2009 06:13


Aidan White
Sekertaris Jenderal Federasi Jurnalis Internasional


Kita memulai dengan bayang-bayang akan krisis kartun ketika kita diingatkan bahwa kebebasan berekspresi perorangan yang tak terbatas, yang tak terkendalikan bukanlah tanpa konsekuensi. Kita telah melihat betapa pentingnya jurnalisme dalam meliput pertikaian antar-budaya, apakah itu di Asia Tengah atau di Asia Selatan, di Timur Tengah, di Jantung Afrika, atau digigir Eropa yang penuh berisikan ketegangan. Kita telah menyadari tidak ada sudut manapun dari belahan dunia yang tidak tersentuh oleh “cemeti” kesalah-pahaman, pengabaian dan prasangka buruk.

Sebagian dari pertikaian ini masih berlangsung saat ini, sebagian berada dalam memori yang terus hidup, dan yang lain masih lebih jauh. Dalam berusaha untuk memahami akar-akar pertikaian, para jurnalis lebih dari yang lain perlu untuk memperhatikan kata-kata dari William Faulkner yang mengingatkan kita bahwa masa lalu tidaklah mati.

Mempromosikan Kepalsuan

Melalui dialog, kita telah mempertimbangkan betapa media dapat digunakan untuk mempromosikan dan menyebar-luaskan kepalsuan, penipuan dan spekulasi, mempromosikan kesalah-pahaman, kebencian dan kekerasan. Dan kita telah menggali perbedaan-perbedaan antara ekspresi bebas dan media bebas. Manipulasi pendapat publik oleh ekstrimis yang mencari penyelamatan melalui media dan meracuni pembicaraan tentang publik karena perorangan dan kelompok-kelompok yang mengekspresikan diri mereka sendiri secara bebas tidak bertujuan untuk kebenaran. Kita membutuhkan ketelitian pelaporan dan pelaporan yang berimbang. Kita menyaksikan sirkulasi dan promosi klaim-klaim palsu sebagai penanganan bukti yang menipu.

Ahli filsafat Onora O’Neill empat tahun yang lalu mengingatkan media Barat untuk memikir ulang sikap-sikap kebebasan pers sebagai obat penawar kebebasan berekspresi yang tidak terbatas yang, ia perlihatkan dengan tepat, yaitu “penghormatan diri sendiri.” Kebebasan ekspresi, demikian ia katakan, hanya dapat mendukung penemuan kebenaran, ketika itu tertanam dan dikelilingi dalam diskusi dimana pendapat-pendapat yang berbeda tidak hanya diungkapkan, tetapi juga diuji dalam perdebatan terbuka.

Tetapi, jurnalisme adalah “menganggap orang lain.” Jurnalisme dituntun oleh misi – mengatakan kebenaran, kemerdekaan, kepentingan publik dan suatu sikap yang bertanggung-jawab terhadap dampak publikasi dan penyebaran kata-kata dan citra-citra kita. Untuk bekerja secara efektif, jurnalisme harus tertanam atau dikelilingi dengan komunikasi yang mempromosikan diskusi dan pertukaran yang demokratis.

Akses Informasi berkualitas

Dewasa ini, ekspresi bebas, kebebasan pers dan pencarian kebenaran adalah sekutu-sekutu atau pertemanan yang alami, khususnya ketika mereka berhadapan dengan musuh-musuh umum atau musuh yang lazim–seperti negara-negara yang menerapkan penyensoran atau memanfaatkan propaganda untuk membentuk ruang informasi publik. Bilamana ada suatu kehampaan atau kevakuman informasi, maka, kehampaan itu harus diisi. Semua suara – apakah itu di Tibet, atau di Zimbabwe, atau Rusia – memiliki hak untuk didengar.

Tetapi tidak cukup bagi kita untuk mempunyai hak mengekspresikan pendapat-pendapat kita. Kita juga harus mempunyai akses untuk informasi yang berkualitas yang menyediakan konteks, analisa dan komentar mengenai dunia yang kompleks dimana kita hidup. Itulah mengapa, pada suatu waktu ketika lembaga-lembaga yang berkuasa, kelompok politik dan korporat mendominasi dan menyimpangkan komunikasi dan ketika kelompok ekstrimis politik dan agama mengotori atau membuat polusi untuk perdebatan publik, kita harus mengambil tantangan untuk berpikir ulang mengenai peranan kebebasan media dan jurnalisme yang independen memberi ruang bagi kebebasan berekspresi, mempertimbangkan juga kenyataan-kenyataan teknologi dan komersial.

Dewasa ini, karya para jurnalis dilaksanakan dalam kondisi-kondisi yang penuh kehati-hatian dan seringkali berbahaya. Makin banyak jurnalis yang terbunuh, makin banyak media yang dijadikan target, lebih berlimpah lagi ancaman-ancaman menghadang. Tetapi ancaman-ancaman ini tidak hanya datang dari luar. Karena konperensi ini akan mengungkapkan lingkup jurnalisme yang berkualitas telah dibatasi secara dramatis dalam tahun-tahun terakhir. Disekitar dunia korupsi tersiar dimana-mana dan disekitar jurnalisme. Bahkan dinegara-negara ketika kebebasan berbicara menjadi batu penjuru demokrasi, kondisi-kondisi pasar yang berubah-ubah, banyak memangkas anggaran-anggaran editorial telah memberikan dampak yang amat menimbulkan kebinasaan.

Tidaklah cukup membiarkan jurnalisme kepada pasar. Banyak pekerja kita dilumpuhkan oleh dampak Internet, merusakkan “pabrik” jurnalisme dalam kepanikan mereka untuk menghindari kepastian kemerosotan dalam pasar-pasar tradisional. Dan Internet sendiri, yang telah memberikan ekspresi bebas ledakan terbesarnya dalam sejarah, bukanlah penjamin akses yang mudah terhadap informasi yang dapat diandalkan dan yang berkualitas.

Kitapun tidak dapat mengandalkan lembaga-lembaga pemerintah atau negara yang tidak dapat dihindarkan mempunyai kecenderungan untuk mempolitisir atau memperalat informasi untuk selaras dengan kepentingan-kepentingan mereka. Saya diingatkan mengenai hal ini beberapa hari yang lalu ketika saya memimpin sebuah missi para pemimpin jurnalis ke Beijing. Persiapan untuk Pertandingan-pertandingan Olimpiade merupakan karya luar biasa dengan koreografi politik, dan hubungan massa sampai beberapa minggu yang lalu, bermula dengan janji-janji pemerintah China kepada Komite Olimpiade Internasional untuk membuka pintu terhadap praktek jurnalisme yang bebas.

Ini merupakan suatu janji yang berani, karena kebebasan pers di China, ketika sekitar 30 orang jurnalis dan penulis sedang berada dipenjara, suatu permainan yang sedang dimainkan oleh pemerintah atas ketentuan-ketentuannya sendiri yang tidak berkompromi. Walaupun Pasal 35 Undang-undang Dasar China atau the Chinese Constitution menyatakan bahwa para warga negara menikmati kebebasan berbicara dan kebebasan pers, itu merupakan suatu kebebasan yang ada yang terbaik dalam kondisi yang samar-samar.

Optimisme yang ditimbulkan oleh beberapa langkah yang terbatas Pembebasan Jurnalis Hongkong Ching Cheong dan pengenalan petunjuk-petunjuk yang memberikan media asing hak untuk mewawancarai penduduk lokal semuanya dipadamkan oleh tanggapan China yang sengit dan kejam terhadap apa yang ia klaim sebagai liputan media Barat yang bermusuhan dengan protes-protes di Tibet dan rekaman atau record hak-hak asasi manusia negara tersebut. Bulan lalu, diluar kemilaunya publisitas yang diilhami oleh Tibet, sebuah pengadilan China menghukum seorang aktifis hak-hak asasi manusia Hu Jia dengan hukuman tiga setengah tahun penjara karena ia berbicara dengan media-media asing dan mempublikasikan artikel-artikel yang mengecam China mengenai hak-hak asasi manusia disitus jaringan yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Beberapa hari yang lalu, beberapa orang jurnalis asing yang berkantor pusat di China berkata kepada saya bagaimana mereka telah dijadikan target dan disakiti disitus-situs jaringan China dalam sebuah gelombang permusuhan anti orang-orang asing atas peristiwa-peristiwa baru-baru ini.

Pada pihak mereka para pemimpin China secara tegas memperlihatkan kesinisan mengenai kelekatan Barat terhadap hak-hak asasi manusia. Mereka mengetahui dengan baik bagaimana kondisi kompetitif untuk mendapatkan akses terhadap pasar-pasar China telah mengakibatkan beberapa pengkhianatan media yang spektakuler. Keputusan Korporasi Media Rupert Murdoch (Rupert Murdoch’s News Corporation) untuk melarang BBC News dari saluran-saluran satelit Asia dan kerja sama dengan raksasa Internet Yahoo! dalam menyediakan bukti yang membantu mengirimkan jurnalis Shi Tao kepenjara selama sepuluh tahun karena mengirimkan informasi keluar negeri menceritakan kisah mereka sendiri.

Kontribusi Media

Dalam lanskap informasi ini yang berbeban berlebihan dan dengan ketidak-pastian, ketika media global dan organisasi-organisasi supranasional melemahkan cengkeraman negara bangsa, ketika rakyat disenangkan dengan melimpahnya informasi, ketika para politikus ditakutkan oleh para ekstrimis dan korupsi, ketika banyak kalangan bisnis media telah kehilangan indera missinya, maka kita memang harus sungguh-sungguh memikir ulang sikap kita tentang bagaimana media dan jurnalisme berkontribusi terhadap kehidupan demokratis.

Agar demokrasi itu berhasil, tidaklah cukup bahwa media dan para jurnalis bebas mengekspresikan pandangan, kita juga harus memberikan informasi kepada para warga negara. Kita perlu mengkomunikasikan sebuah gambaran yang utuh. Kita perlu menganalisa dan menuliskan inforamsi sesuai konteksnya. Kita harus melakukan intelejensi informasi dan dapat diandalkan, sehingga orang-orang dapat mengaksesnya, membenarkan informasi itu menurut mereka sendiri dan mengambil keputusan-keputusan yang sudah diinformasikan.

Singkatnya, melalui jurnalisme yang professional kita harus berjanji pada diri kita sendiri bertanggung-jawab terhadap suatu etika atau tata-susila komunikasi untuk membantu rakyat atau orang-orang memahami dengan lebih baik kerumitan dunia disekitar mereka. Itulah kunci mengadakan sebuah dialog antar-budaya suatu proses proses yang bermakna dan bukan melulu hubungan antar masyarakat untuk butir-butir yang bermakna-baik dari “mengenal lebih baik”.

Tidaklah dapat dibenarkan bahwa informasi yang berkualitas merosot karena kita mengekspansikan wawasan-wawasan ekspresi bebas. Tetapi itu akan terjadi kecuali jika kita tidak melakukan suatu upaya dari hati nurani untuk melindungi dan meningkatkan nilai-nilai serta hal-hal yang baik kepada publik yang mengalir dari jurnalisme yang bertanggung-jawab dan beretika.[]