NEWS FLASH
Islam Moderat Dalam Peta Diplomasi Global Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Maret 2008
Sunday, 23 August 2009 10:18


Negara kita dihuni oleh penganut agama Islam moderat terbanyak di dunia, seperti NU dan Muhammadiyah. Hal ini menjadi salah satu potensi yang mampu meningkatkan bargaining power dengan negara lain serta dalam pentas diplomasi global. Islam Moderat Indonesia, memiliki konsep yang lebih maju sehingga memungkinkan untuk memberi kontribusi bagi perdamaian timur tengah juga konfl ik lain-lainnya dan isu demokratisasi di beberapa negara Muslim. Istilah Islam Moderat sebenarnya terbawa oleh konstalasi sosial politik. Dengan demikian pembagian Islam menjadi moderat, liberal, fundamental dan ekstrim itu juga tidak lepas dari penilaian yang berbedabeda. Sebenarnya NU sendiri tidak menggunakan lebel Islam Moderat sejak awal, yang kita gunakan adalah Islam Rahmatan lil Alamin dan itu memang istilah yang ada pada Islam sendiri dan kemudian orang menyebutnya moderat.

Karena sudah terlanjur disebut menjadi istilah maka istilah moderat itu harus kita beri batasan. Sesungguhnya Moderat itu adalah keseimbangan antara keyakinan dan toleransi, seperti bagaimana kita mempunyai keyakinan tertentu tetapi tetap mempunyai toleransi yang seimbang terhadap keyakinan yang lain. Islam yang moderat itu adalah yang natural, ilmiah dan siap untuk diaplikasikan dalam pergulatan hidup dan tentunya belum dimasuki interest-interest non agama. Pandangan terhadap Islam moderat itu mulai banyak digunakan oleh beberapa negara, karena ekstrimitas itu berakhir dengan membawa korban tanpa membawa penyelesaian.

Ekstrimitas itu tidak dimonopoli orang Islam, diluar muslim juga banyak ekstrimitas-ekstrimitas bahkan diluar agamapun yang memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ”raksasa”, baik dari segi politik maupun ekonomi juga dapat mengakibatkan ekstirimitas. Untuk muslim Indonesia, mayoritas umat Islam-nya moderat, karena tumbuh dari akar sejarah yang akulturasi pada proses pengislaman. Pada zaman sebelum Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan Budha sudah terlebih dahulu dikenal oleh bangsa indonesia. Masuknya Islam hingga menjadi agama mayoritas, terjadi tanpa ada kekerasan dan perang itu merupakan hal yang menarik.

Kejadian itu merupakan akulturasi, sehingga menjadi Islamisasi kultural, diteruskan dengan Islam teologi dan Islam kognitif baik yang bersifat keyakinan atau sakral. Benih kekerasan dalam agama dipicu oleh faktor non agama Di Indonesia kelompok yang terbesar Islam moderat itu adalah NU dan Muhamadiyah, karena keduanya diproses melalui cara di dalam negeri (Indonesia). Apabila saat ini terdapat gerakan ekstrim yang memperkenalkan Islam dengan wajah kekerasan itu terjadi pada era reformasi, karena sebelumnya kita tidak pernah mendengar ada bom dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Dengan demikian ekstrimitas yang berwatak agama ini merupakan hal yang baru bukan orisinil dari pemikiran Islam Indonesia. Kenapa hal itu terjadi seperti di Maluku ada perang, di Bali ada Bom dan lainnya.

Oleh karena itu perlu di sadari bahwa kekerasan itu bukan merupakan watak dasar dari masyarakat Indonesia. Semua itu terjadi karena beberapa faktor, pertama kesalahpahaman, kedua salah kegunaan, ketiga faktor bukan agama diagamakan seperti yang terjadi di Maluku, sebenarnya akar permasalahan adalah masalah separatisme, dan bagaimana separatisme itu dapat menjadi tumbuh maka ”diciptakanlah” suatu konfl ik agama. Sesungguhnya tradisi di maluku untuk saling menghormati sesama agama dari sejak dahulu itu sudah berjalan (Pelo Gendong) Sementara di Bali itu merupakan luapan dari perang global antara AS dengan Timur Tengah, yang kemudian menyebar keseluruh dunia dan melakukan perlawanan kepada AS dan seluruh dunia termasuk yang ada di Bali.

Sehingga sebetulnya Indonesia itu bukan merupakan sarang teroris tetapi korban terorisme yang berasal dari luapan global tersebut. Pemerintah dalam mengatasi ektrimisme dan terorisme tidak boleh sama dengan cara-cara Amerika, yang hanya sebatas untuk memberitahukan telah terjadi ganguan keamanan sehingga nama Indonesia tidak rusak. Apa yang sudah dilakukan saat ini sangat bagus karena pelakunya diadili dan tidak dilawan dengan teror.

Dengan adanya pengadilan maka latar belakangnya akan terungkap yang akhirnya tidak menimbulkan dendam. Konfl ik Timur Tengah digerakkan oleh Kepentingan berskala besar Jika teror yang terjadi di timur tengah konstalasi dan ekskalasinya sudah berbeda, disana ada AS, Israel yang kemudian bersekutu dan ”ribut” dengan orang barat kadang untuk melindungi Israel dan terkadang untuk melindungi ekonomi politik. Sehingga lebel ”terorisme” itu tidak selalu karena agama, seperti perang Irak itu sebenarnya bukan perang agama tetapi perang minyak. Demo yang terjadi di luar Indonesia yang ditentang itu adalah NO War For Oil dan tidak ada yang menulis No War For Religion. Kita saja yang salah paham yang menganggap perang tersebut adalah perang agama barat dengan Timur.

Karena itu kejadian di Irak merupakan penjajahan dan ekspansi, maka siapa saja yang menentang dianggap ekstrimis. Dengan demikian sebenarnya yang terjadi di Irak itu bukan karena konfl ik agama. Pada saat agama yang dibawa NU ini Rahmatan lil Alamin dalam natural dan moderat ini dikembangkan di Indonesia maka menjadi alternatif penyelesaian dan ketika di bawa pada tatanan internasional manjadi menarik, karena sebenarnya yang terjadi di dunia internasional adalah bentrok antar ekstrim. Pada saat mereka di beritahu bahwa agama Islam yang sesungguhnya itu tidak demikian maka lambat laun mereka akan sadar.

Setelah garis moderasi ditemukan di berbagai macam daerah-daerah konflik yang di huni orang islam karena berada di negara islam maka agamanya harus dapat diselamatkan dari nafsu konfl ik. Meskipun gerakan moderasi ini di beberapa negara Islam belum punya pengaruh bagi perkembangan umat Islam dunia, mengingat cara berpilkir mereka yang hingga kini belum menerima moderasi, tapi mereka mengakui bahwa moderasi itu benar. Oleh karenanya di beberapa negara ada yang sudah dapat melaksanakan tetapi juga ada yang belum dapat melaksanakan, dan saat in mulai menyadarkan lintas agama. Saat ini orang-orang Kristen mulai sadar, bahwa agamanya juga digunakan higomoni ekonomi dan politik, terbukti pada 16 Februari 2007 dalam pertemuan world council of churches (Dewan Gereja- Gereja Dunia) di Brazil, saat itu salah satu perwakilan dari dari Gereja di AS dalam pidatonya menyatakan umat Kristiani AS meminta maaf kepada dunia terutama kepada umat Islam karena tidak berhasil menahan negaranya untuk tidak menyerang Irak.

Hal itu membuktikan bahwa mereka sadar bahwa agamanya hanya digunakan sebagai alat. Pada saat agama kristen hanya digunakan sebagai alat, maka merasa ada kerugian karena ada kebencian dari agama lain terhadap Kristen sehingga kita memerlukan pernyataan seperti itu. Gerakan Rahmatan Lil Alamin yang kita bawa ini mulai menembus lintas agama tidak hanya sebatas pada Islam saja tetapi juga agama lainnya. Saat ini ada kesadaran dari kelompokkelompok Islam dan agama lainnya bahwa agama sedang dijadikan alat untuk kepentingan global. Dengan demikian saat ini orang Kristen mulai simpati dengan gerakan Rahmatan Lil Alamin, sehingga pada saat Kongres World Council of Relegins for Peace (WCRP) di Kyoto tahun 2007, Saya terpilih menjadi salah satu Presiden, artinya pihak internasional berusaha untuk menyambungkan pola-pola pemikiran bahwa agama menjadi potensi damai bukan potensi konflik, agama menjadi potensi nasionalisme bukan globalisme yang menghancurkan negaranegara berkembang. Pertemuan di Kyoto itu merupakan pertemuan semi resmi karena dibawah UNESCO dan PBB. Mereka mulai sadar bahwa agama itu saat ini dalam keadaan terdesak. Hingga saat ini gerakan Islam Rahmatan Lil Alamin atau sering disebut Moderat mulai laku terjual. Masalahnya adalah kondisi di suatu negara yangbelum memungkinkan terjadinya moderasi seperti yang terjadi di Indonesia. Oleh karenanya masih saja ada terjadi perlawanan karena belum bisa diterapkannya seperti yang terjadi di libanon dan jalur Gaza. Hal itu telah menimbulkan kekuasaan agamanya menyetujui namun kondisi daerahnya tidak dapat memungkinkan mengikuti seperti di Indonesia.

Oleh karenanya dalam wawasan yang sama melahirkan sikap yang tidak sama karena kondiisi keadaan negaranya. Libanon Utara dan Selatan, Syria, Jordania sebenarnya orang-orang Suni seperti Indonesia yang berpikir moderat, akan tetapi kondisi di negaranya yang berperang maka kita tidak dapat menuntut untuk sama dengan negara kita Sekarang di kalangan umat Islam sendiri ada liberalitas dan ekstrimitas. Ekstrimitas itu biasanya karena membawa agamanya secara ekstrim sementara liberalitas membawa agama dengan akalnya sendiri. Sehingga paradigma dalam mengurai Al Quran dan Hadist tidak dibakukan sebagai ilmu tetapi sesuai keinginan kelompoknya. Hal ini menimbulkan kecerobohan dalam pelaksanaan agama seperti orang Islam boleh tidak melakukan sholat, tidak sholat dianggap bagian HAM dan lainnya. Alasan itu semua adalah untuk mengimbangi kelompok garis keras seperti Hizbutahrir, sesungguhnya HT ini keras karena takut dengan liberal. Ada timbal balik saling menakutkan, itu menunjukkan ekstrimitas ini tidak benar baik yang keras maupun yang lunak. Yang benar adalah natural, maka liberalitas itu bukan suatu solusi sama juga dengan ekstrimitas.

Ekstrimitas itu yang dirusak adalah citra agama tetapi jika liberalitas yang dirusak adalah teologi agama termasuk juga norma kognitif dan sosial. Semua ini sifatnya hanya sementara dan pada akhirnya juga akan kembali pada Rahmatan lil Alamin. Yang menjadi pokok masalah adalah bagaimana kita dapat mengatur atau menerapkannya ke seluruh dunia sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang kongkrit. Saat in di Mesir akan ada gerakan moderasi global dengan maksud apakah akan ada penggabungan dari kelompok-kelompok moderat untuk menjadi sebuah kekuatan dan saya juga dihubungi untuk ikut bergabung. Jika gerakan ini berasal dari pemikiran Islam sangat baik tetapi jika hanya sebatas pada permintaan pihak lain maka hasilnya menjadi tidak baik, justru akan memecah kelompok-kelompok yang ada di Mesir. Di Indonesia, garis-garis ekstrim itu lahir karena wacana, kondisi, kesalahpahaman dan kesalahgunaan agama dan politik global. Politik global ini yang saya sebut sebagai ideologi transnasional, karena reformasi maka banyak gerakangerakan politik luar negeri yang menginginkan keberadaannya di Indonesia dengan menggunakan tema agama.

Gerakan Mereka ini lebih banyak bobot politiknya ketimbang agamanya, buktinya mereka tidak membangun sarana agama tetapi hanya melakukan pertemuan dan sebatas simbolistik. Hal ini sangat berbahaya jika gerakan politik itu didikte dari luar, karena mereka tidak mengetahui kondisi di Indonesia. Apabila ada perbedaan hanya sebatas pada aliran itu tidak masalah tetapi apabila ada jaringan-jaringan politik yang berwatak agama dan dibawah komando dari luar negeri hal ini yang berbahaya dan ini sudah mulai masuk di kalangan Islam dengan Hizbut Tahrir (HT)- nya dan kristen (kejadian di Brazil ada sekelompok pendeta yang menginginkan Papua bukan bagian dari Indonesia). Hal itu aneh karena tidak ada hubungannya agama Kristen dengan Papua. Kejadian ini mengharuskan pemerintah turun tangan. Tidak cukup hanya intervensi saja dan tidak melakukan suatu proteksi terhadap ketahanan Indonesia pada bidang politik, agama dan ekonomi.

Moderasi apabila dikaitkan dengan masalah di Timur tengah, maka kita harus tahu bahwa ratarata di Timur Tengah itu juga moderat, kecuali yang mengalami konfl ik politik dan ekonomi dengan barat. Yang moderat ini sebenarnya sama dengan di Indonesia tapi karena kondisi negaranya dalam suasana perang maka tidak memungkinkan bagi mereka menerapkan nilai-nilai moderasi seperti di Indonesia yang situasisnya dalam keadaan aman. Oleh karena itu bentuk nyata dalam Penyelesaian konfl ik Israel Palestina yang paling realitis adalah keduanya mau menerima konsep Indonesia yaitu dapat hidup berdampingan dan menjaga perdamaian bersama. Akan tetapi hegomoni selalu ingin semuanya dan tidak puas dengan pembagian. Kita juga harus dapat melihat bahwa konfl ik Israel Palestina bukan hanya sebatas agama tetapi juga merupakan konfl ik dari kepentingan besar dari yang lebih besar.

Sehingga kita tidak tahu apakah negara Israel itu yang mengendalikan atau negara lain yang mengendalikan Israel. Jika demikian pada akhirnya perang Israel - Palestina dapat dikatakan suatu penjajahan dan pada akhirnya menimbulkan perlawanan apapun agamanya seperti kelompok Hamas tidak semua anggotanya orang Islam. Perlawanan yang dilakukan Hamas, oleh Israel disebut sebagai bagian dari terorisme dan ekstrimisme. dan itu merupakan bagian dari ”Psywar” perang urat syaraf. Konfl ik Israel - Palestina dapat selesai jika negara lain tidak mencampuri, keduanya mau hidup berdampingan, seluruh negara arab tidak pro kontra, namun semua ini jelas tidak mudah. Ada istilah bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia dan tidak ada penjajahan yang tidak berakhir. []

Last Updated on Sunday, 23 August 2009 10:39