Budaya & Perilaku Politik Jepang di Asia Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Februari 2008
Sunday, 23 August 2009 15:06


Jepang boleh jadi contoh keajaiban eksisnya negara makmur dan sejahtera dalam waktu relatif singkat. Ya, keajaiban karena negeri sakura itu bangkit dan maju menjadi negara industri termakmur di Asia setelah sebagian besar wilayahnya hancur lebur akibat dibombardir Amerika dan sekutunya saat Perang Dunia ke II. Jepang di masa modern kini menjadi salah satu penentu perekonomian dunia. Tentu saja tak semudah membalik tangan untuk menjadi Jepang yang maju seperti saat ini. Butuh waktu dan penuh jalan berliku. Setelah sukses dari segi perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, Jepang kini terus melebarkan sayapnya dengan memperkuat basis politik dan kebijakan luar negerinya guna menunjang ambisi politisnya, antara lain menduduki posisi pen-ting di lembaga Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB), serta eksistensinya di kawasan Asia. Budaya dan menjadi salah satu penentu perekonomian dunia. Tentu saja tak semudah membalik tangan untuk menjadi Jepang yang maju seperti saat ini. Butuh waktu dan penuh jalan berliku.

Setelah sukses dari segi perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, Jepang kini terus melebarkan sayapnya dengan memperkuat basis politik dan kebijakan luar negerinya guna menunjang ambisi politisnya, antara lain menduduki posisi pen-ting di lembaga Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB), serta eksistensinya di kawasan Asia. Budaya Dan perilaku politiknya terus mengalami perubahan dan pergeseran seiring ambisi politiknya tersebut. Jepang sadar untuk mewujudkan ambisinya itu banyak hambatan. Untuk tingkat regional maupun global, hambatan itu antara lain faktor hubungannya dengan beberapa negara tetangga dekatnya di Asia Timur, khususnya China dan Korea Selatan (dan juga Korea Utara).

Ambisi politik Jepang yang ingin menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, merupakan kelanjutan dari dimensi politiknya agar menjadi bagian dari kekuatan politik dunia bersama lima negara besar anggota tetap Dewan Keamanan PBB lainnya (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia dan China). Faktor China ternyata merupakan kunci pokok bagi Jepang untuk dapat memenuhi ambisinya itu, antara lain karena hak veto yang dimiliki China. Inilah antara lain fokus bahasan buku Budaya & Perilaku Politik Jepang di Asia, karya mantan dubes RI di Jepang, Abdul Irsan. Buku ini memuat delapan bagian. Bagian satu membahas sejarah bangsa Jepang; bagian dua mengupas budaya politik dalam hubungan internasional Jepang; bagian tiga membicarakan masalah identitas politik baru dalam menanggapi globalisasi; bagian empat membahas soal perilaku politik dalam negeri dan reformasi struktural Jepang; bagian lima soal orientasi pertahanan Jepang; bagian enam masalah interaksi kepentingan stratejik di Asia Timur dan Asia Tenggara; bagian tujuh soal hubungan Indonesia dan Jepang, dan bagian delapan penutup.[]