| Teras Diplomasi |
|
|
| Edisi - Maret 2010 |
| Thursday, 25 March 2010 19:58 |
|
HUBUNGAN Indonesia-Amerika Serikat sekarang ini patut menjadi perhatian kita bersama, terutama dengan rencana kunjungan Presiden Obama ke Indonesia yang dijadwalkan pada minggu ketiga Maret 2010. Dalam dekade terakhir, hubungan AS-RI menjadi penting karena sejalan dengan proses reformasi nasional, dimana dalam hal ini Indonesia dan Amerika Serikat melakukan share value yang sangat penting bagi eksistensi kerjasama internasional yang kuat. Meskipun dalam hal ini masyarakat Indonesia masih banyak yang skeptis mengenai value terkait demokratisasi, good governance, pemberantasan korupsi, dan penghormatan HAM, tetapi Indonesia mempunyai drive yang sangat kuat. Fakta bahwa Indonesia sedang menuju ke arah itu sangat dihargai oleh berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat. Melalui share value ini, Indonesia kemudian memiliki political currency yang sangat tepat jika saat ini kita pergunakan untuk mendapatkan dan memanfaatkan berbagai hal yang ditawarkan dan menjadi peluang di Amerika Serikat, untuk pembangunan dan peningkatan kapasitas Indonesia agar menjadi sebuah negara maju. Tentunya banyak sekali peluang, diantaranya di bidang perdagangan yang terus meningkat nilainya dari tahun ke tahun. Adanya kecenderungan perekonomian Amerika Serikat yang mengalami pertumbuhan diatas 3 %, adalah indikasi adanya peluang yang sangat bagus, termasuk di bidang pendidikan dan climate change. Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama, sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden, yaitu bahwa bagaimana kita menjadikan sebuah tantangan menjadi sebuah peluang. Apalagi saat ini Indonesia tengah menjadi highlight dalam percaturan dunia internasional. Barangkali ini menjadi momen yang tepat bagi kita untuk memiliki sebuah comprehensive partnership dengan Amerika Serikat, yang akan menjadi basis kita didalam mengembangkan kerjasama yang lebih strategis kedepan terkait bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Fokus dari kunjungan Obama kali ini akan lebih di titik beratkan pada isu-isu ekonomi, karena kedua negara sekarang ini tengah sama-sama menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan terkait dengan terjadinya krisis ekonomi global. Di lingkup permasalahan nasional yang terkait dengan permasalahan internasional, dalam edisi ini kami tampilkan pula mengenai persoalan seni dan budaya. Dimana globalisasi telah menyebabkan hubungan antar budaya menjadi lebih intens, sehingga masalah warisan budaya berpotensi sebagai sumber konflik yang tidak berkesudahan. Dan sampai saat ini, umumnya masyarakat terperangkap oleh sikap reaksioner didalam menanggapi masalah budaya tersebut, mereka kaget, cemas dan marah ketika melihat bangsa lain menggunakan seni dan budaya miliknya, tanpa pengetahuan dan visi yang jelas mengenai kebudayaan, termasuk dalam hal membangun citra bangsa dan negara. Telah terjadi distorsi dalam permasalahan budaya ini, sehingga pengetahuan masyarakat terhadap budaya menjadi salah secara terus-menerus, masyarakat menjadi tidak faham mengenai hal-hal mendasar tentang Hak Cipta dan Hak Paten yang dikaitkan dengan upaya mempertahankan dan memperjuangkan sebuah warisan budaya. Padahal sepatutnya kebudayaan itu jangan hanya dipandang sebagai warisan sejarah yang harus dipertahankan dan diperjuangkan ketika bangsa lain menggunakan budaya tersebut, tetapi bagaimana agar budaya itu dijadikan sebagai keseharian dan identitas bangsa.[] |
| Last Updated on Saturday, 27 March 2010 08:32 |



