Print E-mail
Edisi - April 2010
Wednesday, 14 April 2010 11:47

Kontingen Garuda dan Total Diplomasi


Denny Lesmana
Direktorat Diplomasi Publik Kemlu RI
Anggota Konga XXIII B

Salah satu kegiatan diplomasi total Indonesia yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia adalah pengiriman Kontingen Garuda dalam misi penjagaan perdamaian di berbagai belahan dunia sejak tahun 1957. Pengiriman Kontingen Garuda ini sangat penting, baik dalam rangka penjagaan perdamaian maupun diplomasi, karena disamping tugas penjagaan perdamaian, para prajurit Garuda juga harus melakukan pendekatan dan negosiasi dengan masyarakat setempat agar situasi kondusif dapat tercipta di wilayah operasional Kontingen Garuda.

Masyarakat Indonesia yang secara tradisi sudah memiliki keramahan alami dan kemampuan untuk menghargai orang lain serta metode penyelesaian konflik secara musyawarah untuk mencapai mufakat, secara natural telah memiliki modal dasar yang kuat untuk melakukan diplomasi publik dan memanfaatkan soft power. Hal ini sangat mendukung kegiatan Kontingen Garuda, karena dalam keseharianya mereka harus selalu berhadapan dengan masyarakat. Setelah pecahnya perang 34 hari antara Israel dengan Hezbollah pada tahun 2006, Pemerintah Indonesia kembali mengirimkan Kontingen Garuda, dimana kali ini bernaung dibawah misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Sampai saat ini Kontingen Garuda UNIFIL sudah memasuki tahun ke-empat penugasan, yaitu dimulai dari pasukan Konga XXIII-A (2006-2007), Konga XXIII-B (2007-2008), Konga XXIII-C (2008-2009) dan Konga XXIII-D (2009-2010).

Dalam misi Konga XXIII-A dan Konga XXIII-B, masing-masing disertakan 3 (tiga) orang personil dari Kementerian Luar Negeri RI untuk bergabung dengan anggota kontingen yang berasal dari tiga matra kekuatan TNI, yaitu darat, laut dan udara yang terdiri dari berbagai macam satuan. Nuansa diplomasi, terutama diplomasi publik, sangat kental dalam pengiriman Kontingen Garuda UNIFIL ini, bahkan tidak kalah penting dibandingkan tugas utama UNIFIL dalam rangka operasi penjagaan perdamaian. Karena disamping operasi penjagaan perdamaian, Konga XXIII yang biasa disebut Indobatt (Indonesian battalion), juga melakukan kegiatan CIMIC (Civil-Military Coordination) yang merupakan salah satu ujung tombak Kontingen didalam melakukan pendekatan kepada masyarakat. Kegiatan CIMIC ini cukup banyak dan menjangkau seluruh kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kegiatan yang dilakukan untuk anak-anak antara lain adalah Smart Car, kursus bahasa Inggris dan komputer, pengobatan massal, pembangunan taman bermain, menyelenggarakan peringatan Hari Anak Nasional di Lebanon dan kegaitan-kegitan lainnya yang diperuntukkan bagi anak-anak setempat. Smart Car adalah mobil pemberian Ibu Ani Bambang Yudhoyono kepada Kontingen Garuda UNIFIL yang berisi mainan anak-anak. Smart Car ini berkeliling dari satu desa ke desa lainnya di wilayah kerja Indobatt pada jadwal-jadwal yang telah ditentukan. Anak-anak di Lebanon Selatan sangat menyukai Smart Car ini, karena selain dapat bermain dengan berbagai mainan yang dibawa oleh Smart Car, mereka juga dapat menyaksikan pertunjukan sulap, mengikuti perlombaan menggambar dan lain sebagainya.

Untuk remaja setempat, Indobatt melakukan pembangunan lapangan sepak bola, menyelenggarakan pertandingan persahabatan sepak bola dan bola volley, pelatihan P3K, kursus komputer dan bahasa Inggris, serta kegiatan lainnya. Sementara untuk masyarakat lainnya, Indobatt melakukan pendekatan melalui silaturahmi dengan para tokoh masyarakat setempat, membantu memanen gandum, pengobatan massal, memadamkan kebakaran dan memberikan bantuan tenaga pada saat diminta oleh masyarakat setempat, bahkan merenovasi sebuah rumah untuk kemudian dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Dalam hal ini KBRI Beirut memberikan dukungan dengan memberikan peralatan DVD, TV, komputer dan printer. Di dalam rumah tersebut terdapat bendera Indonesia dan Lebanon, dengan tulisan Nahnu Ikhwan (Kita bersaudara) di bawahnya.

Dalam melaksanakan tugasnya, para prajurit Indobatt sudah menjadi diplomat, menjadi wakil dari negara Indonesia dalam mempromosikan Indonesia, dimana keberhasilan para prajurit Indobatt dalam membina hubungan baik dengan masyarakat setempat, pada akhirnya membuahkan dukungan masyarakat terhadap kegiatan operasional Indobatt. Keberhasilan para prajurit Indobatt dalam win hearts and minds of people tampak pada saat kepulangan mereka, dimana masyarakat setempat berdatangan ke Markas Indobatt dan menyampaikan kesedihan mereka karena harus berpisah dengan personil Indobatt. Sebagian lainnya berdiri di sepanjang jalan hanya untuk melambaikan tangan dan melepas kepulangan para diplomat berseragam asal Indonesia ini.

Jika melihat pola-pola yang digunakan oleh para prajurit Indobatt, maka tampak bahwa para prajurit Indobatt telah menerapkan prinsip-prinsip diplomasi publik dengan menggunakan soft power berupa kemampuan untuk melakukan pendekatan dengan seluruh komponen dalam masyarakat dalam rangka memenangkan hearts and minds of people. Hasil dari Kontingen Garuda tersebut adalah munculnya kepercayaan dari publik Lebanon kepada Kontingen Garuda khususnya, dan kepada Indonesia pada umumnya. Bahkan mereka menginginkan agar beberapa wilayah operasi negara anggota UNIFIL lainnya dijadikan sebagai wilayah operasi Indobatt. Pihak PBB melalui UNIFIL juga mengakui keberhasilan diplomasi publik yang dilakukan oleh para prajurit Indobatt. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian bantuan dari UNIFIL yang diberikan melalui Indobatt. Selain itu pasukan Indobatt juga beberapa kali dilibatkan oleh UNIFIL dalam menyelesaikan konflik yang muncul antara Kontingen UNIFIL lain dengan masyarakat sekitar. Indobatt berhasil menjalankan kepercayaan yang diberikan secara maksimal, dan mampu menjadi mediator antara masyarakat dengan UNIFIL.

Keberhasilan Kontingen Garuda dalam melaksanakan misi yang diberikan oleh PBB merupakan keberhasilan Indonesia, demikian pula keberhasilan para duta negara kita lainnya di berbagai bidang, seperti interfaith dialogue, ekonomi, olah raga, kesenian, dan lain-lainnya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia yang tentunya akan sangat membantu Indonesia di dalam melaksanakan pembangunan untuk mencapai tujuan nasional Indonesia. Pada akhirnya saya ingin mengajak semua pihak untuk ikut terlibat didalam memberikan dukungan untuk kesuksesan diplomasi Indonesia, yang hasilnya akan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.[]

Last Updated on Wednesday, 14 April 2010 17:21