|
|
| Edisi - April 2010 |
| Wednesday, 14 April 2010 17:29 |
UNIFILPotret Keberhasilan Pasukan Indonesia di Lebanon![]() Bagas Hapsoro - Deputi Sekjen ASEAN - Duta Besar RI Untuk Lebanon 2007-2009 Dalam cover majalah UNIFIL atau dalam bahasa Arab disebut Al Janud (Pasukan Penjaga Perdamaian) edisi terbaru, terpampang gambar pasukan Indonesia. Ini merupakan sebuah apresiasi terhadap pasukan Indonesia, karena terus terang bah-wa yang bisa masuk sebagai cover majalah ini, sebenarnya adalah hanya pasukan terbesar, tetapi dalam hal ini pasukan Indonesia bisa masuk. Karena itu saya cukup berbangga, apalagi karena pasukan Indonesia ini jumlahnya semakin bertambah terus. Sewaktu pertama kali saya datang ke Lebanon, jumlahnya baru sekitar 850 personil, dan sekarang sudah mencapai 1.307 personil. Kontingen yang sekarang ini bertugas di Lebanon adalah pasukan Konga XXIII-D/UNIFIL. Setiap tahunnya Indonesia mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Lebanon, dan biasanya masa penugasan pasukan Indonesia itu adalah yang paling lama dibandingkan masa penugasan pasukan dari negara lainnya. Tetapi dalam hal ini banyak keuntungan yang bisa kita peroleh; Pertama, bahwa ini dibiayai oleh PBB dan tidak menggunakan dana APBN ; Kedua, kita bisa memanfaatkan hal ini untuk melakukan kerjasama dengan pasukan dari negara-negara besar, seperti misalnya Perancis, Italia, Denmark, dan Jerman. Dalam hal jumlah pasukan, sekarang ini Indonesia menempati posisi nomor empat terbesar, yaitu setelah Italia, Perancis, dan Spanyol, kedepan jumlah ini akan terus semakin bertambah. Keuntungan lainnya yang bisa kita peroleh, adalah dalam hal membangun networking antara anggota pasukan, perwira dan sebagainya. Networking ini penting, karena ketika mereka pulang nanti, mereka sudah mempunyai jalinan kerjasama yang baik, dan bahkan bisa saling mengenal dengan baik antar sesama pribadi. Dan pada akhirnya, tentunya ini juga akan sangat membantu didalam pengembangan kerjasama di bidang militer. Indonesia harus mengejar ketinggalannya. Melalui peace keeping ini, Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu tidak terlalu lama. Keuntungan-keuntungan lainnya juga cukup banyak, tetapi yang paling penting adalah bahwa peace keeping ini akan merubah dan meningkatkan image Indonesia tidak hanya sebagai pasukan perdamaian, tetapi juga pasukan yang bisa mengambil hati rakyat dan penduduk setempat. Selama 2 tahun 3 bulan saya bertugas sebagai Dubes RI untuk Lebanon, tidak ada kejadian-kejadian dalam eskalasi besar. Dan dengan kedudukan Lebanon sebagai anggota non-permanent DK PBB sekarang ini, hal ini telah membuat Indonesia semakin tenang, karena Lebanon sudah bukan lagi sebagai objek dari suatu keputusan DK PBB tetapi juga sebagai subjek yang bisa menentukan suatu keputusan dan menentukan masa depan mereka sendiri. Salah satu kelebihan yang dimiliki pasukan Indonesia didalam pelaksanaan tugas misi perdamaian di Lebanon adalah kedekatannya dengan penduduk lokal. Mereka bisa mengajarkan tari poco-poco disamping juga belajar tarian rakyat Lebanon, sehingga tanpa ragu-ragu kami membuat Friends of Indonesia bagi siapa saja, entah itu penduduk atau siapapun dan terbuka untuk segala umur, tetapi kebanyakan adalah para anak-anak muda. Saya melihat ini sebagai suatu hal yang menggembirakan, karena hal ini membuat prajurit kita tidak merasa bosan dan merasa berada di tempat dimana mereka harus melakukan tugas penjagaan, tetapi juga adalah tempat dimana mereka dapat menjalin persahabatan dan melakukan komunikasi. Pasukan Indonesia bisa sangat diterima oleh masyarakat Lebanon itu disebabkan karena beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasukan dari negara-negara lainnya. Seperti misalnya dalam hal sopan santun, dimana setiap bertemu dengan penduduk, pasukan Indonesia selalu tersenyum dan menyapa. Kalau membawa kendaraan tidak ugal-ugalan melainkan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh UNEP, atau kalau misalnya melintasi sebuah desa yang menetapkan aturan bahwa jam sekian kecepatan kendaraan tidak boleh lebih dari sekian, itu selalu ditaati oleh pasukan Indonesia. Sementara pasukan dari negara lain mungkin tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pasukan Indonesia. Kemudian pasukan Indonesia juga membaur secara sosial dengan mengajarkan penduduk setempat untuk menari, berbahasa Inggris, mengoperasikan komputer, dan juga bahasa Indonesia, dan sekarang ditambah dengan mengajarkan tentang perbengkelan. Disamping itu para prajurit Indonesia juga diberikan kesempatan untuk bersosialisasi didalam menjalankan ibadah, baik yang Muslim maupun non- Muslim. Melalui pendekatan-pendekatan seperti itulah, maka pada akhirnya pasukan Indonesia sangat diterima oleh masyarakat Lebanon, termasuk dalam kegiatan-kegiatan sosial lainnya, seperti menjaga kebersihan, dan selalu menghadiri undangan dari kalangan manapun. Kalau kita ditawari untuk makan di rumah penduduk, itu jangan ditolak, karena akan membuat mereka kecewa dan merasa ada sesuatu yang hilang, karena itu kita tidak pernah menolak dan selalu hadir kalau ada undangan. Sementara kalau pasukan negara lain mungkin mereka agak hati-hati dalam hal ini. Disamping itu juga, adalah masalah history, dimana mereka menilai bahwa pasukan dari negara lain itu terlalu dekat dengan pasukan Israel, sementara pasukan Indonesia tidak pernah ada masalah dengan siapapun. Sementara di Lebanon itu ada militansi dan radikalisme, dan untuk itu kita menunjukkan diri sebagai negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk yang juga besar jumlahnya, tetapi bukan sebagai negara agama melainkan sebagai negara yang moderat.[] |
| Last Updated on Friday, 16 April 2010 10:04 |




