NEWS FLASH
Print E-mail
2016 Juli - Diplomasi Juli 2016
Thursday, 28 July 2016 05:07

CATATAN REDAKSI

Para pembaca setia Tabloid Diplomasi yang terhormat, mengawali tahun 2016 pada edisi ke-93 (Januari-Februari 2016) kami akan menyuguhkan topik utama mengenai Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2016 yang merupakan pernyataan atau pidato rutin setiap tahun yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri. Pada PPTM kali ini Menlu Retno mengawali pidatonya dengan 2 perkembangan yaitu memburuknya hubungan antara Arab Saudi dan Iran serta uji coba nuklir oleh Korea Utara. Arab Saudi dan Iran adalah teman baik Indonesia.

Dilatarbelakangi kekhawatiran Menlu yang mendalam akan perdamaian dan  keamanan di kawasan Timur Tengah, maka presiden RI mengutus Menteri Luar Ne-geri melakukan komunikasi intensif dengan Arab Saudi, Iran, dan beberapa negara lain. Semua upaya akan terus dilakukan agar situasi tidak menjadi lebih buruk.Indonesia juga menyampaikan kekhawatiran yang dalam atas uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara. Sebagai teman baik, Indonesia meminta agar Korea Utara melaksanakan resolusi Dewan Keamanan terkait.

 Diplomasi Indonesia akan bergerak lebih cepat di tahun 2016. Dengan optimisme yang tinggi serta kemampuan untuk mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan, Menlu yakin bahwa 2016 akan menjadi tahun yang lebih baik.Menlu Menegaskan, secara keseluruhan, selama tahun 2015, diplomasi Indonesia terus memberi kontribusi nyata kepada pembangunan dan kepentingan nasional.

Tidak kalah pentingnya, diplomasi Indonesia telah memberikan banyak kontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia. Sebuah tatanan arsitektur baru sedang dipersiapkan di Samudera Hindia.

Semua capaian dan rencana yang akan kita lakukan di tahun ini, tidak terlepas dari sumbangsih para diplomat Indonesia di seluruh dunia.

Topik utama berikutnya adalah pelaksanaan pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) VIII yang digelar pada tanggal 10-11 Desember 2015 di Nusa Dua, Bali.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari tersebut mengambil tema “Democracy and Effective Public Governance”. BDF VIII dihadiri oleh sekitar 250 perwakilan dari 89 negara dan 3 organisasi internasional.

Tema pertemuan BDF kali ini relevan dengan perkembangan saat ini, tidak hanya di tingkat nasional namun juga pada tingkat global. Pengembangan demokrasi dan tata kelola pemerintahan telah menjadi isu yang tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang efektif akan mendorong pembangunan komprehensif dan holistik melalu pendekatan yang mengedepan-kan transparansi, akuntabilitas, partisipasi dan penegakan hukum.

Pemerintahan yang mampu mendengar dan menjawab aspirasi rakyatnya merupakan perwujudan dan pemenuhan hak masyarakat, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan.

Pertemuan juga mengeksplorasi lebih lanjut tanta-ngan dan rangkaian inovasi yang dapat dan telah ditempuh oleh negara-negara di kawasan Asia Pasifik guna mencari solusi dalam membangun tata kelola pemerintahan yang lebih efektif.

BDF kali ini menggunakan format perdebatan umum dan tiga diskusi panel yang terfokus pada tema Pembangunan Demokrasi dan Tata kelola Pemerintahan yang Efektif; Tantangan Pembangunan Demokrasi dan Tata kelola Pemerintahan yang Efektif; dan Pilihan dan Prospek Pembangunan Demokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif di kawasan Asia Pasifik.

Di akhir pertemuan, BDF menghasilkan Chair’s Statement yang mengidentifikasi temuan penting dari berbagai perdebatan dan rangkaian program nyata terkait pembangunan demokrasi dan tata kelola peme-rintah efektif yang akan dilaksanakan Institute for Peace and Democracy (IPD) sepanjang tahun 2016.

Topik Lainnya yang dikupas dalam edisi kali ini adalah penyelenggaraan Internastional Conference of Islamic Scholars (ICIS IV). Indonesia kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan The Fourth International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang berlang-sung pada tanggal 23-25 November 2015 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Penye-lenggaraan ICIS IV merupakan kerja sama antara International Conference of Islamic Scholars, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, JATMAN, serta didukung oleh Kementerian Luar Negeri RI. Konferensi dihadiri oleh pejabat pemerintah, akademisi, para Shufi, para pemuka Islam di Indonesia, dan 37 tamu asing dari Brunei Darussalam, Turki, Belgia, Malaysia, Amerika Serikat, Spanyol, Li banon, Suriah, Yaman, Tunisia, dan Timor Leste.

Konferensi ICIS IV mengambil tema Upholding Islam as Rahmatan Lil ‘Alamin: Capitalizing Intellectuality and Spirituality Towards Better Life of Human Beings. Konferensi ini merupakan forum untuk mempromosikan Islam di Indonesia yang berpaham moderat dan toleran, serta untuk mencari solusi dan langkah nyata dalam menghadapi problematika keumatan global.

Selain topik utama tersebut, edisi kali juga akan menyajikan artikel dan informasi lain seputar perkembangan diplomasi Indonesia dan kegiatan diplomasi publik baik didalam negeri maupun diluar negeri.

 

Salam Diplomasi.