Current Issue September 2022 Uncategorized

BEASISWA SENI DAN BUDAYA INDONESIA DIGELAR SECARA DARING

Kazaki Art School di tahun 2022 ini kembali dipercaya oleh Kementerian Luar  Negeri RI untuk menjadi fasilitator program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia. Masih sama dengan tahun sebelumnya, program BSBI ini berlangsung secara daring karena masih terdampak oleh pandemi COVID-19. Banyak tantangan yang Kazaki hadapi untuk mempersiapkan program pelatihan ini dibandingkan dengan tahun 2021 yang lalu. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana cara membuat peserta tetap aktif hingga program ini selesai. Program yang dijadwalkan selama 2 Bulan ini akan diisi dengan materi Tari, Kriya dan Lagu. Peserta diberikan jadwal Latihan 2 kali seminggu di hari Sabtu dan Minggu selama 2 jam dan diharapkan saat akhir program sudah bisa menghafal satu konsep tarian, satu konsep lagu dan membuat 1 kerajinan tangan.

Di tahun ini Kazaki sudah menyi[1]apkan materi Tarian 4 Etnis yang akan diajarkan ke peserta. Tarian 4 Etnis ini bercerita tentang 4 Etnis terbesar di Sulawesi Selatan yaitu  Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Sedangkan untuk lagu sendiri, tim Kazaki Art School mengajarkan 2 lagu yang pertama dari Toraja ber[1]judul “To Manglaa” dan lagu Bugis berjudul “Ininnawa Sabbarae”. Dua lagu ini sangat berbeda dari sisi beat dan aransemennya, hal ini menjadi tantangan tersendiri saat dinyanyikan. Terakhir, untuk materi Kriya sendiri Tim Kazaki mengajar[1]kan membuat “tongkonan” yaitu hiasan kepala dari Toraja yang di[1]gunakan untuk menunjang peserta saat menarikan Tari 4 Etnis.

Kembali membahas tantangan dari program BSBI di tahun 2022 ini meskipun pandemic COVID-19 sudah mereda namun program ini masih berjalan secara daring. Jika di 2021 masih banyak negara yang memberlakukan Lockdown sehingga banyak peserta memiliki banyak waktu untuk bisa hadir di pertemuan kelas sedangkan di tahun ini kita dihadapkan dengan bentroknya antara jadwal Latihan dengan jadwal kegiatan pribadi dari peserta. Contohnya saja dari 11 Peserta awal yang akhirnya bisa menyelesaikan program ini hingga akhir hanya tersisa 5 peserta saja, yaitu Ms. Farisha Rafiqah dari Brunei Darussalam, Ms. Nourelrahman Mamdouh dari Mesir, Mr. Patipon Ritthipukdee dari Thailand, Mr. Theoun Makara dari Kamboja dan terakhir Ms. Valisa Ninthavong dari Laos.

Banyak hal menarik saat program BSBI Virtual ini berlangsung. Secara tidak sengaja setiap tahunnya Kazaki Art School selalu mendapatkan peserta yang memiliki suara sangat merdu dan di tahun ini pun terdapat peserta yang suaranya sangat indah sehingga ketika menyanyikan lagu yang kami ajarkan terdengar merdu dan dari segi pelafalan kata sangat mirip dengan orang Toraja dan Bugis. Peserta ini adalah Mr. Gabriel Lolley dari Solomon Island dan Ms. Nourelrahman Mamdouh dari Mesir. Sedangkan untuk Tari, rata-rata peserta yang bergabung di program ini terbilang bukan penari dan tidak memiliki dasar gerak tari hanya peserta dari Thailand dan Laos saja yang terlihat memang sudah biasa menari.

Kendala lainnya yang mungkin dirasakan adalah saat kelas Kriya. Karena banyaknya alat dan materi yang dibutuhkan untuk membuat tongkonan sehingga sedikit menghambat peserta untuk menyediakan itu semua, ditambah ada beberapa bahan yang tidak dapat ditemukan di masing-masing negara peserta. Namun dengan kreatifnya, masing-masing peserta mencari bahan alternatif pengganti sehingga saat program BSBI berakhir mereka berhasil menyelesaikan kriya Tongkonan.

Akhir kata, Beasiswa Seni dan Bu[1]daya Indonesia ini sangat efektif sebagai program Diplomasi pemerintah Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan Seni dan Budaya ke mancanegara. Kami dari Sanggar Kazaki Art School Makassar pun sangat bangga bisa menjadi mitra Kementerian Luar Negeri RI dalam mengajarkan Kesenian dan Kebudayaan yang ada di Sulawesi Selatan. Semoga di tahun. selanjutnya program ini bisa Kembali terselenggara secara Offline.[]

Don`t copy text!