Januari 2012

Diplomasi Indonesia Konsisten Mengelola Perubahan

Diplomasi Indonesia Konsisten Mengelola Perubahan

SEPANJANG tahun 2011, kita menyaksikan kondisi internasional yang semakin kompleks dan dipenuhi ketidakpastian. Tantangan multidimensi baik di bidang politik, keamanan maupun ekonomi telah menjadi ciri situasi internasional tahun 2011. Tantangan yang bersifat tradisional maupun non tradisional, saling terkait dan bersifat lintas batas. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satupun masalah dan tantangan yang kita hadapi saat ini yang luput dimensi politik luar negerinya.

Hal ini disebabkan setidaknya oleh dua hal yaitu: pertama, dampak dari tantangan tersebut sangat kompleks dan lintas batas. Kedua, tidak ada satu negarapun yang mampu menyelesaikan tantangan dan situasi termaksud secara sendiri. Kerjasama internasional mutlak dibutuhkan.
Di saat yang sama, kita juga menyaksikan perubahan yang cepat dan dinamis serta adanya ketidakpastian yang menyelimuti kondisi global sepanjang tahun 2011. Ketidakpastian kondisi ekonomi global maupun politik dan keamanan. Satu-satunya kepastian sepanjang tahun 2011 adalah ketidakpastian itu sendiri.

Inilah sebagai gambaran umum, lingkungan global dan kawasan yang dihadapi oleh diplomasi Indonesia sepanjang tahun 2011. Dalam menghadapi keadaan ini, diplomasi dapat memberikan kontribusi. Bukan saja untuk mengatasi berbagai tantangan melainkan menciptakan peluang.

Dalam menyikapi kondisi termaksud, Indonesia senantiasa konsisten mengelola perubahan “managing change” dan mendorong adanya perubahan kearah yang lebih baik “promoting change ”. Dua hal inilah yang sesungguhnya dilakukan Indonesia sepanjang tahun 2011. Untuk itu, diplomasi Indonesia tidak hanya bersifat responsif, namun juga bersifat antisipatif.

Indonesia senantiasa memproyeksikan kepemimpinan dalam penanganan berbagai tantangan di kawasan dan global. Kebijakan polugri yang diambil sepanjang tahun 2011, senantiasa berjangkar pada kepentingan nasional yang disemangati prinsip kemitraan dan kesetaraan. Indonesia senantiasa mengupayakan adanya solusi, menjembatani perbedaan kearah kesepahaman dan mendorong terwujudnya konsensus terhadap tantangan yang dihadapi bersama.

Kebijakan polugri diambil didasarkan pada pendekatan yang prinsipil, visioner, namun pragmatis dan antisipatif dalam merespons berbagai perkembangan kawasan dan global. Semua dilakukan untuk mengelola perubahan dan dinamika yang terjadi; di saat yang sama senantiasa mendorong adanya perubahan kearah perbaikan.

Sesuai dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, politik luar negeri Indonesia senantiasa mengedepankan kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Semuanya dilakukan semata untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.

Kepentingan nasional sebagaimana yang tertera dalam pembukaan UUD 1945; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Mengawali pelaksanaan politik luar negeri pada tahun 2012 ini, kita meyakini tantangan global dan kawasan diperkirakan tidak semakin kecil, melainkan semakin meningkat.

Ketidakpastian diperkirakan pula masih akan mewarnai kondisi pada tingkat global maupun kawasan. Ditengah kondisi global dan kawasan yang semakin kompleks, Kementerian Luar Negeri memiliki komitmen, niat dan kesungguhan yang kuat untuk melanjutkan dan meningkatkan hasil yang telah dicapai pada tahun lalu. Diplomasi Indonesia akan tetap berupaya mengelola perubahan dan mendorong adanya perubahan guna menciptakan kondisi yang kondusif dimana seluruh pihak dapat menikmati keamanan bersama (common security), stabilitas bersama (common stability) dan kemakmuran bersama (common prosperity).

Indonesia secara gigih akan berjuang untuk perdamaian dan kemakmuran (waging peace and prosperity). Sesungguhnya, perkembangan yang terjadi pada tahun 2011 telah membuktikan komitmen dimaksud dan pada tahun 2012, ini akan terus menjadi platform diplomasi dan politik luar negeri Indonesia.

Sepanjang tahun 2011, Indonesia memberikan perhatian yang besar pada peningkatan hubungan dengan negara-negara sahabat. Upaya untuk memperdalam dan memperluas kerjasama bilateral senantiasa dikembangkan berdasarkan prinsip kemitraan, kesetaraan dan saling menguntungkan.

Sepanjang tahun 2011, telah dilakukan penajaman prioritas-prioritas kerjasama dengan negara-negara mitra strategis dan komprehensif Indonesia, dan mengidentifikasi negara-negara sahabat yang berpotensi menjadi mitra strategis Indonesia.
Pada tahun 2011 telah diidentifikasi 3-5 bidang prioritas dan target-target kerjasama ekonomi pada masing-masing negara dimana Indonesia memiliki kemitraan strategis dan komprehensif. Prioritas dan target dimaksud akan menjadi semacam tolok ukur pencapaian mesin diplomasi dan politik luar negeri.

Selain itu, sepanjang tahun 2011 dilakukan berbagai upaya untuk penguatan mekanisme kerjasama bilateral dengan negara-negara sahabat. Penguatan mekanisme bilateral dilakukan dengan merevitalisasikan mekanisme bilateral dengan sejumlah negara dan atau mempertajam mekanisme yang sudah berjalan secara regular.

Pertemuan Komisi Bersama Tingkat Menteri dengan Filipina, Myanmar dan Laos yang telah vakum sejak tahun 2007 telah direvitalisasi. Demikian halnya Komisi Bersama Tingkat Menteri dengan Brunei Darussalam telah direvitalisasi sejak pertemuan terakhir tahun 2003. Secara sistematis, mekanisme yang telah direvitalisasi sejak tahun lalu, pada tahun 2011 ini dilakukan penajaman lebih lanjut misalnya dengan Timor Leste, Selandia Baru, Malaysia, Amerika Serikat dan Jepang.

Selain itu upaya peningkatan hubungan bilateral yang dilakukan sepanjang tahun 2011 juga tercermin pada intensitas yang sangat tinggi pertemuan bilateral yang dilakukan baik pada tingkat Kepala Negara/Pemerintahan maupun pada tingkat Menteri Luar Negeri.

Untuk membangun payung hukum peningkatan kerjasama dengan negara-negara sahabat, sepanjang tahun 2011 Pemerintah Indonesia telah menandatangani setidaknya 146 perjanjian internasional, dimana 131 diantaranya adalah perjanjian bilateral. Selain itu, Indonesia juga telah meratifikasi 26 perjanjian, dimana hampir 90% merupakan perjanjian bilateral dan lebih dari 60% diantaranya adalah di bidang perekonomian. Ke depan, tentunya berbagai kesepakatan dimaksud menuntut kerja keras seluruh pihak untuk dapat mengimplementasikannya.

Diplomasi ekonomi merupakan bagian tak terpisahkan dari diplomasi bilateral Indonesia. Upaya-upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi dengan negara-negara sahabat merupakan salah satu prioritas diplomasi Indonesia dalam rangka mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Untuk memastikan adanya peningkatan volume dan kualitas perdagangan Indonesia dengan negara sahabat, khususnya dengan negara mitra strategis, telah dibuat target perdagangan sebagai tolok ukur pencapaian kinerja diplomasi ekonomi. Perwakilan RI di luar negeri menjadi tulang punggung upaya diplomasi ekonomi Indonesia. Untuk memperdalam dan memperluas pasar tradisional Indonesia. Di saat yang sama mengidentifikasi lebih lanjut pasar non tradisional. Upaya ini semakin penting dalam kondisi ekonomi global yang masih belum menentu.

Berbagai bentuk diplomasi ekonomi dilakukan Perwakilan RI di seluruh penjuru dunia dari Azerbaijan hingga Zimbabwe; dari Selandia Baru hingga Republik Rakyat Tiongkok.

Penyelenggaraan pameran produk Indonesia di luar negeri; mendatangkan pengusaha negara sahabat ke Indonesia; mempromosikan pembentukan forum bisnis antara pengusaha kedua negara; adalah beberapa langkah nyata diplomasi ekonomi Indonesia.

Hasil positif telah kita saksikan dan rasakan bersama. Sepanjang tahun 2011 misalnya, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan hampir semua negara-negara sahabat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Volume perdagangan dengan 13 negara mitra strategis misalnya mencatat peningkatan yang cukup tajam rata-rata di atas 50 persen.

Sesuai komitmen untuk memperluas hubungan diplomatik dengan seluruh negara anggota PBB, sepanjang tahun 2011, Indonesia telah membuka hubungan diplomatik dengan sembilan negara yaitu Mauritania, El Salvador, San Marino, Montenegro, Republik Dominika, Niger, Sao Tome dan Principe, Antigua dan Barbuda serta Bhutan.

Sembilan negara yang baru dibuka sekaligus sepanjang tahun 2011 ini, merupakan bagian dari sisa 21 negara dimana Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik. Dibukanya hubungan diplomatik dengan 21 negara nantinya, praktis Indonesia akan memiliki hubungan diplomatik dengan seluruh negara anggota PBB yang berjumlah 193 negara.

Di saat yang sama, tercatat 5 negara telah membuka perwakilan asing di Jakarta yaitu Fiji, Kolombia, Belarus, Paraguay dan Konsulat Jenderal RRT di Medan. Pada tahun 2011, sebanyak 16 negara yang membuka kantor perwakilan negaranya untuk ASEAN di Jakarta.

Hingga akhir tahun 2011, tercatat 61 negara yang telah memiliki Wakil Tetap untuk ASEAN. Pada tahun 2012 ini, beberapa negara telah merencanakan membuka perwakilan di Jakarta antara lain Vanuatu dan Georgia. Hal ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia khususnya Jakarta, sebagai salah satu Diplomatic capital bagi kawasan Asia Timur.

Pada tahun 2012 mendatang, Indonesia akan tetap memberikan perhatian besar bagi diplomasi bilateral. Kerjasama dengan negara-negara mitra strategis akan terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan peluang-peluang yang saling menguntungkan termasuk memonitor implementasi bidang prioritas yang telah ditetapkan.

Mekanisme bilateral yang telah ada akan dipertajam dan dibuat lebih komprehensif dengan melibatkan pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya.Target perdagangan yang telah ditetapkan akan menjadi semacam score card bagi setiap perwakilan untuk dapat mencapainya. Merupakan kewajiban perwakilan RI, untuk memperluas pasar ekspor Indonesia guna mendukung nilai eskpor yang dicanangkan Indonesia pada tahun 2012 ini yaitu 230 miliar dollar AS.

Kementerian Luar Negeri juga telah menginstruksikan kepada seluruh perwakilan untuk secara aktif mendorong investasi asing yang bermanfaat bagi kepentingan ekonomi Indonesia sesuai dengan MP3EI yang telah dimiliki Indonesia. Perwakilan RI di luar negeri juga harus berkontribusi bagi pencapaian target wisatawan manca Negara sebesar 8 juta jiwa di tahun 2012.

Seluruh ukuran-ukuran tersebut sangat jelas untuk menjadi target setiap perwakilan. Untuk mempertajam diplomasi bilateral, pada paruh pertama tahun 2012 di Jakarta, akan dilakukan rapat kerja seluruh kepala perwakilan RI guna mengkaji upaya yang sistematis peningkatan hubungan bilateral dengan setiap negara.

Diplomasi di kawasan juga merupakan pilar penting diplomasi Indonesia. Diplomasi bilateral ataupun regional dapat saling melengkapi dan saling mengisi. Keduanya saling terkait erat.

Diplomasi Indonesia dalam mengembangkan kerjasama kawasan senantiasa mengedepankan pengembangan arsitektur kawasan yang memungkinkan kerjasama dalam menjawab tantangan-tantangan keamanan bersama baik yang bersifat tradisional maupun non-tradisional. ‘Tantangan atau ancaman bersama’ di kawasan bukanlah sebuah negara tertentu, melainkan isu bersama seperti pengentasan kemiskinan, kelestarian lingkungan, penanganan bencana alam dan pemberantasan kejahatan lintas batas.

Indonesia juga senantiasa mendorong terciptanya “dynamic equilibrium” di kawasan berdasarkan pendekatan yang menggarisbawahi prinsip common stability, common security dan common prosperity di antara negara-negara di kawasan. Hal ini tidak lain untuk mewujudkan kawasan yang damai, aman dan stabil sehingga memungkinkan negara-negara di kawasan, khususnya Indonesia, untuk dapat melaksanakan pembangunan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Keketuaan Indonesia pada tahun 2011 memberikan kesempatan untuk memberikan kontribusi yang positif bagi pengembangan arsitektur kawasan yang sedang berkembang. Sepanjang tahun 2011, sebagaimana tahun dimana Indonesia menjadi Ketua ASEAN, Indonesia senantiasa menunjukkan kepemimpinan atau leadershipnya bukan hanya menjadi semata ketua ASEAN.

Menjadi Ketua ASEAN adalah masalah rotasi keketuaan; namun kepemimpinan ASEAN menuntut memberikan kontribusi positif bagi pengembangan Komunitas ASEAN yang tidak hanya berhenti pada saat berakhirnya keketuaan, namun berlanjut kedepan. Itulah yang ditunjukkan Indonesia selama menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2011 ini.

Indonesia membuat perbedaan; made a difference. Indonesia berupaya merubah kondisi dari keadaan sebelumnya ke arah yang lebih baik.
Adalah merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan bahwa politik luar negeri Indonesia dan diplomasi merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. Hanya dengan itu, Indonesia akan memiliki peran dan pengaruh yang lebih besar di kawasannya. Hanya dengan itu pula, Indonesia dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam forum global. Hanya dengan itu pula, politik luar negeri dan diplomasi Indonesia dapat diabdikan untuk kepentingan nasional. Guna mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.[] (Disunting dari Pernyataan Pers Tahunan Menlu RI 2012, 4/1/2012)
 

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!