Juli 2015

Kiprah Diaspora Indonesia Dalam Melakukan Gerakan Nasional Membangun Bangsa

Kiprah Diaspora Indonesia Dalam Melakukan Gerakan Nasional Membangun Bangsa

Kongres Diaspora Indonesia (KDI) III digelar di Jakarta pada 12-14 Agustus 2015 dengan tema ‘Diaspora Bakti Bangsa’. Kongres bertujuan untuk mensinergikan orang Indonesia yang ada di luar negeri dengan segenap komponen bangsa di Tanah Air dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah, legislatif, sektor swasta akademisi, dan masyarakat sipil.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Kemlu RI, Dubes M. Wahid Supriyadi, yang juga Ketua Desk Diaspora Indonesia mengatakan bahwa tema tersebut dipilih sebagai acuan bagi para WNI yang menorehkan kiprah mereka di Negara tempat tinggal mereka masing-masing agar pulang kampung dan membuat sebuah pergerakan nasional yang membangun bangsa.

Menurut Dubes M. Wahid Supriyadi, sejauh ini para peserta KDI III sudah mendaftar secara online dan diperkirakan akan lebih banyak lagi yang mendaftar secara on-site. Kongres sebelumnya (KDI II) dihadiri 3000 anggota Diaspora dan 6000 stakeholders.

“Jumlah chapter juga sudah meningkat menjadi 75 chapter dari 44 negara. Dalam kongres sebelumnya, chapter masih berjumlah 50. Jadi dari segi organisasi cukup berkembang”, jelas Dubes M. Wahid Supriyadi.

Menurut Presiden Indonesia Diaspora Network (IDN), Muhamad Al-Arief, kongres ini adalah pembuktian untuk berbakti kepada bangsa. Kongres KDI III merupakan kesempatan bagi diaspora Indonesia untuk mempersiapkan diri berbakti bagi bangsa, agar para diaspora Indonesia bisa secara kolektif mempersiapkan sumbangsih mereka terhadap bangsa.

“Kongres terbuka untuk publik dan ini adalah kesempatan bagi kami semua untuk bersinergi dengan komponen bangsa lain,” imbuh Al-Arief. “Ini adalah koneksi people-to-people, business-to-business serta ideas-to-ideas dan hati ke hati.”

Menurut Al-Arief, diaspora Indonesia berjumlah cukup besar dan mencapai tujuh juta orang di seluruh dunia. Jika dianggap propinsi, akan menjadi propinsi terbesar ke-14 di Indonesia. Jumlah ini masih kalah jauh dibanding Tiongkok yang mempunyai 80 juta diaspora dan India yang memiliki 60 juta diaspora. “India bahkan punya kementerian untuk diaspora yang bernama Ministry of Overseas Indian Affairs (MOIA),” imbuhnya.

Diakui bahwa Indonesia agak terlambat memahami potensi diaspora. Padahal, jaringan diaspora di luar negeri bisa memberi kontribusi besar pada negara bila dimanfatkan seperti yang dilakukan India dan Tiongkok. Diaspora Tiongkok yang jumlahnya besar telah banyak berkontribusi. Dalam dua puluh tahun pertama sejak 1979 saja, investasi mereka sudah mencapai USD 300 miliar.

Menurut Dubes M. Wahid Supriyadi, jaringan diaspora Indonesia di seluruh dunia perlu diperkuat karena memiliki potensi besar. Selama ini, perkumpulan warga Indonesia di luar negeri hanya berdasarkan kesamaan agama, suku, atau profesi. “Sekarang ada diaspora sebagai payungnya,” tambahnya.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!