Current Issue September 2022

MEMPERKUAT ASEAN MENGHADAPI TANTANGAN BARU

Menteri Luar Negeri RI menyam[1]paikan pentingnya bagi ASEAN memperkuat diri dalam mengha[1]dapi berbagai tantangan baru un[1]tuk menjamin ASEAN berarti bagi masyarakat. Tantangan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan fiskal menjadi isu sen[1]tral yang diangkat Menlu RI saat menghadiri 55th ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (55th AMM) di Phnom Penh, Kamboja, 2-5 Agus[1]tus 2022.

Dorongan Menlu RI ini didasar[1]kan pada perkembangan dunia yang masih dihadapkan pada pemulihan ekonomi akibat Pan[1]demi COVID-19 serta menculnya konflik dan ketegangan politik di berbagai belahan dunia. Terham[1]batnya rantai pasok pangan serta pupuk untuk kebutuhan pertanian, membuat kenaikan harga produk pangan yang juga mengakibatkan kerentanan pangan bagi masya[1]rakat ASEAN.

Indonesia melihat bahwa persoalan ini juga menjadi tantangan ASEAN se[1]cara keseluruhan dan solusi regio[1]nal perlu dimajukan. Usulan Indo[1]nesia untuk memperkuat respon ASEAN dalam mengahadapi tan[1]tangan ketahanan pangan dengan memperkuat kerja sama ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR). APTERR dibentuk untuk menjamin pasokan beras di wilayah ASEAN ketika terjadi kejadian daru[1]rat. Usulan Indonesia dimaksudkan untuk memperluas jenis komoditas dan jumlah komoditas di bawah APTERR tersebut.  

Selain itu, Menlu RI juga meng[1]garisbawahi pentingnya ASEAN sampaikan dukungan kepada Black Sea Initiative, yang berupaya mengintegrasikan kembali produk pangan dan pupuk dalam pasar global dari wilayah konflik. Dukun[1]gan ASEAN akan penting untuk turut menciptakan kondisi kondu[1]sif guna menjamin stabilitas har[1]ga pangan bagi kebutuhan warga dunia

Terlepas dari isu ketahanan pa[1]ngan, Menlu RI juga menindaklan[1]juti upaya penguatan mekanisme kerja sama kesehatan ASEAN da[1]lam menghadapi COVID-19 dan ancaman pandemi lainnya. Pem[1]bentukan ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases yang telah disepakati untuk dibentuk di Indonesia, Thai[1]land, dan Vietnam perlu diopera[1]sionalisasikan sesegera mungkin. Di saat bersamaan, Indonesia juga telah mendorong agar pendanaan regional untuk mitigasi COVID-19 dalam skema COVID-19 ASEAN Re[1]sponse Fund dapat diperluas un tuk penanganan isu kesehatan lain yang mengancam ASEAN.

Isu Myanmar

Pertemuan juga membahas per[1]kembangan situasi terkini di Myan[1]mar. Menlu RI bersama Menlu ASEAN lain menyampaikan kekece[1]waan atas tidak adanya kemajuan serta komitmen Junta Militer Myan[1]mar dalam implementasi Five Point Consensus (5PC). Pertemuan juga mengecam eksekusi terhadap em[1]pat tahanan politik Myanmar yang dilaksanakan seminggu sebelum pelaksanaan 55th AMM.

Secara khusus, Menlu ASEAN me[1]nyapakati agar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN bulan November mendatang dapat melakukan te[1]laahan terhadap implementasi 5PC sejauh ini dan menentukan lang[1]kah lanjutan terhadap isu Myan[1]mar. Para Menlu ASEAN juga men[1]dorong agar Menlu Kamboja, se[1]bagai Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar, dapat melakukan pertemuan dengan semua pihak yang bertikai di Myanmar sebelum KTT ASEAN di bulan November 2022.

Rivalitas di Kawasan

Menlu RI juga soroti kembali peningkatan rivalitas negara besar di kawasan Indo-Pasifik yang dapat menggerus kepentingan ASEAN. Rivalitas tersebut dinilai menciptakan permasalahan baru bagi ASEAN dalam menjaga peran bagi masyarakat kawasan dan internasional. Dalam situasi saat ini, ASEAN dinilai harus mengambil langkah drastis guna meningkatkan relevansi ASEAN sehingga tidak terbawa dalam aliran rivalitas negara besar.

Menajamnya rivalitas di Kawasan juga disoroti oleh seluruh Menteri Luar Negeri ASEAN. Memanasnya situasi di Cross-Strait antara RRT dan Amerika Serikat ketika berlangsungnya 55th AMM, membuat Menlu ASEAN juga mengeluarkan pernyataan bersama yang meminta para pihak menahan diri dari segala tindakan yang dapat meningkatkan eskalasi.

Menlu RI sampaikan beberapa langkah yang perlu diambil ASEAN guna mengatasi peningkatan rivalitas ini.  

Pertama, menjamin perkembangan institusi ASEAN yang progresif. Langkah ini perlu dilakukan untuk meningkatkan adaptabilitas dan responsivitas ASEAN dalam men[1]jawab berbagai isu yang muncul.

Kedua, memastikan ASEAN sebagai poros dalam berbagai proses ASEAN-led mechanisms yang diikuti oleh mitra eksternal. Namun, upaya ini dinilai tidak mudah mengingat mitra ASEAN juga membentuk dan mengikuti berbagai mekanisme lain dalam kawasan Indo-Pasifik yang dapat menekan peran ASEAN. Oleh karenanya, Indonesia menilai penting bagi ASEAN untuk terus meminta penguatan komitmen mitra eksternal dalam menjaga sentralitas ASEAN, termasuk terhadap norma dan nilai yang telah disepakati, khususnya dalam Treaty of Amity and Cooperation.

Ketiga, ASEAN harus mendorong implementasi konkret dari ASEAN Outlook on the Indo-Pasifik (AOIP). Implementasi kerja sama ditujukan agar AOIP berada di depan dari berbagai inisiatif minilateral dan unilateral yang berkembang saat ini. Sifat kerja sama dalam AOIP yang bersifat inklusif dan transparan juga dinilai penting untuk menjamin berbagai inisiatif di bawah AOIP ditujukan untuk meningkatkan stabilitas, perdamaian, dan kesejahteraan kawasan.

Don`t copy text!