Januari 2012

Peran BDF Sangat Strategis

Peran BDF Sangat Strategis

diplomasi
Prof. Dr. Azyumardi Azra
Direktur Pascssarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

HAL yang menarik terkait demokrasi adalah inklusifisme demokrasi, jadi meskipun demokrasi itu memiliki prinsip-prinsip yang universal, tetapi tidak ada satu negarapun yang bisa mengklaim bahwa dialah negara yang paling demokratis. Karena itulah pada penyelenggaraan BDF pertama kita juga mengundang negara-negara seperti China, Myanmar, Brunei dan Singapura, dan karenanya ada negara-negara yang memprotes, karena negara-negara tersebut dianggap bukan negara demokrasi. Saya katakan kepada mereka, bahwa tujuan dari forum ini adalah untuk saling tukar-menukar pengalaman, informasi dan best practices mengenai demokrasi.

Perkembangan demokrasi yang terjadi di Myanmar saat ini, sedikit banyaknya juga ada kontribusi dari BDF ini. Jadi kita harus inklusif dan tidak menyingkirkan negara-negara tersebut. Ini penting, karena bisa jadi mereka malah tidak akan menjadi negara yang demokratis jika kita tidak menyertakan mereka. Dengan mendengar barbagai macam pengalaman demokrasi melalui forum ini, maka pada akhirnya mereka mulai menemukan bentuk demokrasi yang sesuai bagi negara mereka.

Disinilah peran BDF yang sangat strategis dengan pendekatan yang inklusif, dimana Indonesia melakukan ini dalam bentuk yang tidak menggurui, melainkan dengan rendah hati dan sederhana, sehingga ada yang mengatakan bahwa Indonesia sudah berada dalam posisi melakukan “ekspor demokrasi”. Tapi kita tidak mau menggunakan istilah itu, kita mengatakannya dengan “tukar-menukar pengalaman dan informasi”. Itulah yang membuat negara-negara yang belum demokrasi sedikit banyaknya mulai berpartisipasi, kita berupaya mendorong perubahan sedikit demi sedikit di dalam cara berpikir mereka, dan sehingga sedikit banyaknya BDF telah berperan didalam menciptakan perubahan tersebut.

Selain prinsip-prinsip demokrasi yang universal, saya kira demokrasi itu harus diperkuat secara individu. Semakin kita bisa berasimilasi dengan demokrasi, maka demokrasi itu akan semakin kuat. Kalau tidak, maka demokrasi akan dianggap sebagai sesuatu yang asing atau imported, oleh karena itu tugas kita di Indonesia adalah misalnya menguatkan wacana mengenai demokrasi yang Islami. Apa yang sebenarnya menjadi akar-akar teologis bagi demokrasi dilihat dari bangsa Indonesia.

Kalau perlu kita cari juga culture groups of democracy di Indonesia, misalnya dalam tradisi di Bali, masyarakat Bali itu memiliki ‘Subak’, dan mungkin memiliki hal-hal yang bisa memuat demokrasi. Kalau di kampung saya di Sumatera Barat, disana bisa ditemukan transfer values of democracy, misalnya apa yang disebut dengan ‘Demokrasi Palaka’. Palaka adalah tempat duduk di warung kopi, dimana setiap orang bisa dengan bebas mengungkapkan aspirasinya.

Kalau hal ini bisa kita kembangkan, maka demokrasi kita akan semakin kuat dan menjadi semacam identitas dan menjadi perekat antara nilai-nilai agama dan budaya, dan hal tersebut harus diupayakan secara terus menerus.

Indonesia memang luar biasa, dan demokrasi di Indonesia memang harus kita perjuangkan terus. Bahwa demokrasi itu bukan hanya untuk demokrasi itu sendiri tetapi untuk pembangunan. Jadi sekarang ini di tingkat internasional, sebagai international idea misalnya, demokrasi itu harus menciptakan kesejahteraan. Asumsinya sekarang ini adalah bahwa demokrasi itu tidak bisa berdaya sepenuhnya jika masyarakat masih miskin, oleh karena itulah maka masalah kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat perlu mendapat perhatian.

Itulah yang menjadi tema pokok sejak dua tahun lalu, yaitu democracy and development, dan development for democracy. Sekarang ini yang menjadi program-program utama adalah program perbaikan kesehatan, sanitasi, gizi dan sebagainya. Selanjutnya adalah peran dari lembaga-lembaga iptek/think tank yang menurun sejak era reformasi ini, karena masing-masing politikus mendirikan lembaga sendiri-sendiri yang saya kira tidak terlalu serius dan lebih kepada kepentingan elit politik dibanding kepentingan masyarakat dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Kedepan saya kira lembaga-lembaga iptek/think tank kita perlu diberdayakan kembali dalam konteks development for democracy.[]
 

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!