Juli 2015

Pertemuan Bilateral Menlu RI di Sela-Sela ASEAN Ministerial Meeting

Pertemuan Bilateral Menlu RI di Sela-Sela ASEAN Ministerial Meeting

Pada pertemuan dengan Menlu Rimbink Pato, dibahas mengenai penjajakan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah PNG. Rencana pengajaran Bahasa Indonesia sebagai pilot project ini akan segera ditindaklanjuti dalam waktu dekat di beberapa sekolah dasar atau menengah di PNG. Selain kerja sama pengajaran Bahasa Indonesia, kedua Menlu juga menyepakati  peningkatan kerja sama dalam konteks Melanesia. Menurut Menlu Retno sejauh ini, Indonesia sudah banyak berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan Melanesian Art and Culture. “Dengan peningkatan kerja sama tersebut, persaudaraan Indonesia dan PNG akan lebih kuat”, ujar Menlu Retno optimis. 

Menlu Retno menambahkan, Indonesia yang telah memperoleh status sebagai associate member di Melanesian Spearhead Group (MSG) juga berkomitmen terus memajukan kerja sama dalam konteks MSG dengan memprioritaskan kerja sama di bidang ekonomi. Indonesia merupakan rumah bagi sekitar 11 juta masyarakat Melanesia yang berada di lima Provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Karena itulah peningkatan hubungan dan kerja sama yang baik dengan negara di kawasan Pasifik ini menjadi salah satu fokus dan prioritas pemerintah.

Sementara itu, dalam pertemuan bilateral dengan Menlu Norwegia, Borge Brende, Menlu Retno juga membahas permasalahan pendidikan dalam konteks internasional. Menlu Retno menjelaskan, Indonesia dan Norwegia saat ini tengah berkolaborasi dalam kerja sama penggalangan dana untuk pendidikan global. Indonesia dan Norwegia akan kembali duduk bersama di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, September mendatang untuk membahas peningkatan investasi di sektor pendidikan global, mengidentifikasi tantangan di bidang pendidikan dan menyusun roadmap untuk meningkatkan investasi dan rekomendasi kebijakan pendidikan.

Kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama antara Presiden RI, Joko Widodo; Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg; Presiden Malawi, Peter Mutharika; Presiden Chile, Michelle Bachelet Jeria; dan Dirjen UNESCO, Irina Bokova sebagai co-convenors dalam Commission on Financing of Global Education Opportunities.

Pada kesempatan tersebut Menlu Retno juga mengingatkan Norwegia untuk segera menindaklanjuti persetujuan bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas ke Norwegia yang telah diajukan sejak Juli 2015.

Sementara itu, pada pertemuan dengan Menlu Tiongkok, Wang Yi, disampaikan bahwa saat ini kondisi atau situasi hubungan bilateral Indonesia – Tiongkok sangat baik dan terus membaik, dimana terjadi intensitas kerjasama di bidang ekonomi antara kedua negara.

“Banyak sekali delegasi Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk menjajaki upaya peningkatan kerja sama di bidang ekonomi,” jelas Menlu. 

Selain itu, pertemuan juga membahas situasi di Laut Tiongkok Selatan. Dalam kaitan ini kedua Menlu sepakat untuk menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan di kawasan. “In the absence of peace and stability, tidak mungkin bagi kita untuk melakukan pembangunan ekonomi” tegas Menlu Retno.

Berikutnya adalah menjaga jangan sampai terjadi trust deficit diantara Tiongkok dengan negara-negara yang berada di sekitar kawasan. “Jangan sampai ada gap antara kesepakatan-kesepakatan di pertemuan dengan situasi yang terjadi di lapangan,” tambah Menlu.

Selanjutnya juga dibicarakan mengenai komitmen untuk segera menyelesaikan elemen-elemen dan struktur dari Code of Conduct (CoC) sesegera mungkin. Intinya adalah membangun trust untuk maju, menjaga peace and stability di kawasan dan berusaha mengintensifkan konsultasi untuk menyelesaikan CoC.

Don`t copy text!