Current Issue September 2022

Sekjen IORA: Kita Tidak Ingin
Samudera Hindia Menjadi Wilayah Konflik

Salman Al Farisi Sekjen IORA

Sebagai sebuah lembaga asosiasi strategis di Kawasan Samudera Hindia, masih belum banyak masyarakat yang memahami IORA dan peran penting yang telah dilakukan di kancah dunia global. Untuk lebih menggali hal tersebut, redaksi Tabloid Diplomasi (TD) berkesempatan khusus melakukan wawancara secara daring dengan Sekretaris Jenderal IORA, Duta Besar Salman Al Farisi (SAF). Berikut petikannya:

TD: Dibandingkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Na[1]tions/ASEAN), masih banyak kawan pembaca di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa dan akademisi yang belum mengenal IORA. Boleh dijelaskan secara singkat?

SAF: IORA adalah Indian Ocean Rim Association, asosiasi negara-negara yang ada di kawasan Samudera Hindia. Saat ini IORA sudah memiliki 23 negara anggota yang tersebar dari Australia hingga kawasan timur Afrika. Ada Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, Comoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Maladewa, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Prancis, yang sebetulnya dari negara Eropa tapi dia juga memiliki wilayah yang ada di kawasan Afrika. Lalu Persatuan Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, dan Yaman. Dalam perkembangann[1]ya, IORA juga memiliki 10 negara mitra dialog atau dialogue partner, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Korea, Mesir, Republik Rakyat Tiongkok, dan Turki. Jadi kalau dicombine antara negara anggota dengan negara[1]negara mitra wicara, sebetulnya lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ada didalamnya. Ini yang menjadikan IORA sangat strategis.

TD: Apa yang menjadi prinsip utama IORA?

SAF: Prinsip utama IORA adalah keterbukaan. Seluruh keputusa di dalam IORA dilaksanakan secara konsensus. Meski[1]pun ada negara maju, negara menengah, negara berkembang, IORA menganut prinsip kesetaraan di antara negara anggotanya. IORA juga menjunjung tinggi penghormatan terhadap kedaulatan dan tidak saling mencampuri urusan dalam negeri. Dalam hal pelaksanaan kegiatan, IORA menganut prinsip voluntary. Selain itu, terdapat banyak hal yang sifatnya non-legally binding dalam hal keputusan-keputusan yang diambil. Organisasi ini memang masih merupakan asosiasi yang belum sepenuhnya menjadi legally binding decision-making process

TD: Inisiatif apa yang melatarbelakangi lahirnya IORA, dan apa kepentingan Indonesia untuk ikut serta di dalamnya?

SAF: Sebetulnya latar belakang lahirnya IORA adalah kunjungan Presiden Nelson Mandela pada awal 1990-an. Tepatnya kunjungan ke India pada 1995 setelah bebas dari tahanan apartheid dan menjadi Presiden Afrika Selatan. Selain India, Presiden Mandela juga berkunjung ke beberapa negara, dan mengatakan bahwa Samudera Hindia ini merupakan samudera yang sangat potensial. Oleh karena itu, negara-negara di kawasan Samudera Hindia perlu melakukan kerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang sangat besar.

Dewasa ini, eksistensi IORA ini men[1]jadi sangat penting di tengah resesi, dinamika geopolitik dan rivalitas great powers, serta dinamika global lainnya. Kita melihat mulai lunturnya kepercayaan publik terhadap prinsip-prinsip multilateralisme. Tentu saja IORA harus tetap konsisten pada mandat, reliable, dan tidak terpengaruh konstelasi politik global. Tetap fokus pada penciptaan perdamaian dan kesejahteraan kawasan. Ini juga terbukti bahwa kerjasama dan pelaksanaan program-program IORA tetap terjalan dan terlaksana dengan baik setelah melewati berbagai tantangan yang ada, termasuk adanya pandemi, adanya ketegangan politik global saat ini, negara-negara anggota dan mitra wicara tetap bekerjasama dengan baik. Ini artinya sebuah pengakuan bahwa semua pihak memandang IORA itu relevan. IORA itu juga agile dan tentu saja pas dan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan utama pendirian IORA

TD: Apa yang menjadi prioritas IORA?

SAF: IORA memiliki empat prioritas utama. Pertama, keselamatan dan keamanan maritim. Kedua, fasilitasi perdagangan dan investasi. Ketiga, manajemen perikanan, yang mana Indonesia menjadi coordinating country. Keempat, manajemen risiko bencana alam, kerjasama ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pertukaran kebudayaan dan pariwisata. Di samping itu ada dua isu prioritas yang sifatnya cross-cutting, menjangkau berbagai bidang yang tadi telah disebutkan, yaitu blue economy yang mencakup masalah[1]masalah perikanan, pariwisata, dan macam-macam, serta women economic empowerment. Ini dua cross-cutting issues yang digeluti IORA

TD: Apa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan misi di IORA?

SAF: Sebagai organisasi yang didirikan tahun 1997, tahun ini kita memasuki tahun ke-25. Sebagai organisasi regional, 25 tahun masih dianggap usia muda. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah tantangan kelembagaan. Organisasi perlu penguatan. Kita belum seperti ASEAN ataupun APEC yang sudah mapan dan bisa bergerak dengan sangat baik. Di IORA, kita perlu penguatan organisasi yang meliputi penguatan sumber daya manusia yang memadai sehingga Secretariat bisa mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan.

Tantangan berikutnya yaitu pendanaan. Iuran dari 23 negara anggo[1]ta secara merata hanya US $ 24.000 per tahun. Angka masih tergolong kecil. Beberapa negara juga tidak bisa membayar iuran karena situasi domestik masing-masing. Alhamdulillah masih ada dukungan dari negara-negara mitra dialog.

Ada pula tantangan yang bersifat geostrategis. Perkembangan geo[1]politik di sekitar kawasan Samudera Hindia menuntut IORA dapat memainkan peran lebih besar, dan menciptakan kestabilan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat.

Dukungan yang saya sebut tadi menjadi sangat penting. Dukungan sumber daya manusia yang me[1]madai dan dukungan pendanaan, sehingga kiprah IORA dalam geo[1]politik kawasan lebih visible. Kita juga tahu bahwa ada keragaman latarbelakang anggota IORA. Satu sisi, itu memberikan peluang yang sangat besar bagi kerjasama di berbagai bidang. Namun, sisi lain[1]juga memberikan tantangan yang tidak mudah untuk mengelolanya bagi upaya memajukan kerjasama IORA itu sendiri.Tantangan yang lebih penting lagi dan menyangkut kiprah masing-masing negara ada[1]lah ownership dan partisipasi ang[1]gota pada proyek-proyek IORA. Ini yang penting untuk dikembangkan di kemudian hari.

TD: Apakah Indonesia termasuk salah satu inisiator di IORA?

SAF: Benar, pada tahun antara 2015 sampai 2019 ketika Troika dipegang oleh Australia, Indonesia dan India, muncul gagasan yang baru lahir pada tahun 2017 dan belum pernah ada sebelumnya, yakni Indonesia menyelenggarakan Summit yang menghasilkan IORA Concord. Itu mengangkat IORA menjadi high political level di tingkat global. Saya kira ini menjadi sangat penting, dan di bawah kepemimpinan Australia pun disepakati program-program cross-cutting yang disebutkan se[1]belumnya (blue economy dan women economic empowerment).

Ketika India memimpin juga banyak sekali fokus kegiatan yang tadi saya sebutkan. Itu adalah program-program yang memang digulirkan oleh India. Jadi saya kira Indonesia, Australia, dan India serta tentu saja Afrika Selatan punya peran sangat penting dalam mendorong kegiatan ini. Namun setiap negara anggota lain juga memiliki peran yang sangat aktif. UAE, Iran, dan negara-negara lain memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Saat ini Bangladesh memegang Keketuaan IORA, dan telah menggulirkan gagasan mengenai development initiative. (Gagasan tersebut) cukup penting karena selama 25 tahun berdiri IORA hanya fokus pada kegiatan training dan/atau workshop

Ke depannya, dengan program development initiative yang digagas Bangladesh, IORA diharapkan memiliki kiprah yang lebih kuat dengan pendanaan yang lebih memadai untuk menjalankan proyek[1]proyek yang lebih dapat dirasakan oleh negara-negara yang lebih membutuhkan, terutama negara-negara least developed country (LDCs) dan small island developing countries (SIDCs). Itu yang penting untuk dilakukan. Jadi masing-masing negara memiliki peran yang sangat penting, tapi juga harus diakui beberapa negara besar seperti Australia, Indonesia, India, dan Afrika Selatan itu memiliki daya dorong yang cukup memadai untuk lebih membuat IORA itu visible.

TD: Summit yang kemarin pertama dilaksanakan itu levelnya Kepala Negara atau apa Pak Dubes?

SAF: Iya levelnya Presiden, saya ti[1]dak hafal berapa banyak yang hadir, tapi cukup banyak. Pada saat itu dipimpin Presiden Joko Widodo dan dinilai berjalan sangat sukses.

TD: Apa visi-misi atau program ker[1]ja yang diusung?

SAF: Ketika saya mendapat tugas ini, saya sampaikan visi-misi saya adalah menjadikan secretariat yang reliable dan efektif agar dapat memberikan dukungan penuh ter[1]hadap negara-negara anggota IORA dalam menjalankan perannya sebagai organisasi regional, utamanya untuk mendorong IORA menjadi organisasi regional yang terkemuka di kawasan Samudera Hindia. Misinya meningkatkan dukungan teknis dan koordinatif serta konsultasi secretariat kepada negara anggota. Selain itu, juga meningkatkan manajemen informasi, komunikasi, dan layanan publik serta membantu badan-badan fungsional IORA melaksanakan fungsi strategisnya.

TD: Memasuki usia ke-25 tahun, bagaimana Bapak melihat peran, kedudukan, atau kontribusi Indonesia dalam membantu target-target produktivitas kerjasama IORA?

SAF: Kontribusi nyata yang dilaku[1]kan oleh Indonesia di IORA, 2017 berinisiatif membuat Summit, lalu menghasilkan satu dokumen yang sangat monumental, yaitu IORA Concord yang menjadi panduan politis high level bagi IORA melaksanakan tugas-tugasnya. Indonesia juga memandang penting IORA karena dengan adanya berbagai tantangan di Samudera Hindia, maka kerjasama IORA ini turut menjaga stabilitas keamanan dan pe[1]majuan kesejahteraan ekonomi di kawasan, terutama dalam rangka mendorong peningkatan perdagangan dan investasi di kawasan. Lalu IORA bagi Indonesia merupakan sarana untuk memperluas pengaruh dan memperkuat posisi tawar Indonesia di kawasan Samudera Hindia sebagai new growth center dalam rangka melengkapi kawasan pasifik.

Dengan postur Indonesia sekarang, sudah waktunya memperluas arena bermainnya, tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik. IORA juga menjadi mitra Indonesia dalam mengatasi tantangan-tantangan di kawasan (Samudera Hindia), dengan mendukung berbagai upaya menjaga keamanan dan keselamatan maritim (maritime safety and security), dan menanggulangi tindak penyelundupan (trafficking and smuggling) manusia dan pencurian ikan (IUU Fishing) yang sangatlah penting bagi Indonesia. Selain itu, perompakan di laut masih menjadi tantangan yang luar biasa di kawasan. Melalui IORA, diharapkan ada kerja sama yang lebih baik untuk pengamanan wilayah Samudera Hindia. Ini berkaitan dengan upaya meningkatkan per[1]tumbuhan ekonomi dan menjaga lingkungan, sehingga kita menjadi negara yang jauh lebih climate friendly. Itu yang kita lakukan, sehingga tidak heran kalau di tahun 2015-2017 Indonesia menjadi Ketua IORA dan menghasilkan sesuatu yang sudah saya sampaikan.

TD: Menghadapi dinamika geo[1]strategi dan geopolitik, pande[1]mi COVID-19, dan perang Rusia – Ukraina, serta masalah perubahan iklim, bagaimana strategi IORA agar mampu beradaptasi dengan perkembangan isu terkini, dalam upaya pembangunan berkelanjutan?

SAF: IORA harus agile untuk selalu menyesuaikan dengan situasi di sekeliling kita. Kemarin dikagetkan dengan pandemi yang meluas sekali. Terkait kesehatan, IORA belum secara khusus menempatkan kesehatan menjadi salah satu prioritas utamanya. Kedepan, ini menjadi perhatian yang sangat mendalam dari anggota. Bahkan pada pertemuan tingkat pejabat senior beberapa waktu lalu, masalah-ma[1]salah ini juga sempat diangkat oleh berbagai pihak. Kita harus melangkah ke sana. Kita senang beberapa waktu lalu Australia menempatkan dana, meskipun belum terlalu besar, untuk mendukung negara-negara LDCs dan SIDCs mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dalam rangka pemulihan akibat COVID.

Isu kesehatan juga sudah mulai ditangani dalam konteks bersama IORA. Ke depan isu-isu climate change menjadi semakin penting untuk kita kembangkan. Meskipun saat ini kita belum secara spesifik memiliki fokus pada isu climate change sebagai prioritas, blue economy, pariwisata, dan climate change juga menjadi isu yang kita arusutamakan (mainstreaming). Tidak menutup kemungkinan masalah-masalah tersebut saling terkait dengan isu-isu yang berhubu[1]ngan dengan climate change. Untuk mengatasi situasi yang berkecamuk akhir-akhir ini, kerjasama IORA justru menjadi semakin relevan dalam menjaga Samudera Hindia adalah samudera yang menjadi hub pembangunan daripada menjadi wilayah konflik. Kita tidak ingin Samudera Hindia menjadi wilayah konflik, sehingga kita juga selalu bersemangat untuk selalu menjaga Samudera Hindia sebagai perlintasan yang sangat aman, bebas, terjaga rule of law-nya, sehingga kita juga bisa memfasilitasi dinamika kegiatan perdagangan dan industrialisasi di kawasan guna menciptakan kesejahteraan seluruh bangsa di kawasan Samudera Hindia.

TD: Bagaimana relevansi keanggotaan dan kekuatan atau keketuaan Indonesia di IORA bagi pencapaian prioritas politik luar negeri kita saat ini dan di masa mendatang?

SAF: Ya tentu saja justru harus benar-benar memperkuat kerjasamanya dengan IORA. Sebagaimana kita diskusikan tadi, IORA merupakan organisasi kerjasama maritim yang komprehensif. Kita harus memperkuat ini sehingga dapat mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, karena sejak awal Presidensi Jokowi, ditekankan adanya cita-cita Indonesia untuk menja[1]di Poros Maritim Dunia. Justru IORA inilah organisasi yang relevan untuk maksud tersebut. Kita harus serius untuk hal ini. Sudah saatnya bagi Indonesia untuk memperluas wilayah bermainnya melalui kerjasama di kawasan yang lebih luas, selaras dengan pengalaman dan kemampuan yang kita miliki

Kita memiliki kemampuan mumpuni. Berbagai macam pengalaman pembangunan yang sudah kita lakukan dalam situsi yang berkecamuk. Kita masih bisa tumbuh lima persen. Tidak semua negara di dunia bisa melakukan hal itu. Banyak hal yang bisa kita tularkan kepada negara-negara yang memiliki keinginan untuk maju seperti Indonesia. Pengelolaan COVID yang baik di Indonesia sangatlah penting untuk dipelajari bagi negara-negara lain. Saatnya tangan di atas. Kita memiliki kemampuan untuk memberi bantuan kepada negara-negara yang memang memerlukan bantuan dari kita. Ini yang bisa dilakukan dalam IORA.

Ragam level pembangunan di IORA sangat tinggi di tengah negara-negara maju, menengah, LDCs, dan SIDCs. Kemampuan yang dimiliki Indonesia dan negara-negara lain bisa disinergikan untuk membantu negara-negara yang kurang mampu. Indonesia juga harus memanfaatkan kepemimpinannya di IORA untuk melaksanakan program-program yang tentu harus selaras dengan kepentingan nasional, yaitu pertumbuhan ekonomi yang baik dan berkelanjutan (sustainable). Kita bisa bekerjasama dalam memfasilitasi perdagangan dan investasi, juga mendorong kerjasama di bidang pariwisata, dan yang lebih penting mendorong kerjasama blue economy dalam mendukung kepentingan nasional untuk pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.

TD: Demografi pembaca sudah bergeser menjadi lebih muda. Apa pesan untuk generasi berikutnya?

SAF: Kita harus sadar bahwa kita, Indonesia, adalah negara kepulauan. Negara ini dibentuk sebagai negara kepulauan. Kesadaran akan kenusantaraan itu merupakan kesadaran yang meyakini laut sebagai peng[1]hubung di antara 17 ribu pulau. Kesadaran bahwa kedaulatan yang sudah dipersatukan dengan laut tersebut sangatlah penting bagi generasi muda. Kesadaran kenusantaraan itu juga akan membangun kesadaran tentang keterbukaan. Orang yang sadar akan keterbukaan/keterhubungan akan lebih mudah menerima pandangan, mengetahui berbagai perkembangan di tempat lain, tidak seperti katak dalam tempurung.

Artinya, kita juga siap untuk menerima kemajuan. IORA masih akan tetap relevan di panggung interna[1]sional maupun di Indonesia pada masa mendatang. Generasi muda harus lebih memperluas cakrawala, giat belajar, dan terus berkembang, tidak hanya merujuk pada negara-negara tertentu, tapi juga meru[1]juk pada perkembangan di kawasan kita sendiri yang menyimpan poten[1]si luas di berbagai bidang sehingga tetap bisa relevan untuk kemajuan bangsa kita sendiri. Banyak yang bisa dipelajari dan bisa menjadi penguat kegiatan kita sendiri.

Saya juga ingin mendorong generasi muda agar lebih tertarik dan memperdalam isu-isu kelautan. Isu-isu kelautan adalah masa depan kita. Negara kita merupakan negara maritim yang akan memerlukan (lebih banyak) ahli di bidang kelautan. Dulu setiap merujuk ahli kelautan, kita selalu menunjuk Hasjim Djalal. Ke depan, kita harus sosok Hasjim Djalal baru yang bisa menjadi rujukan untuk hukum laut di Indonesia. Yang terpenting adalah mari bersama-sama, sebagai bagian dari IORA, untuk memperkuat IORA dengan menunjukkan berbagai kemampuan yang bisa kita bagikan dengan negara-negara anggota.

Don`t copy text!