Preivous Issue September 2021

Tantangan Diplomasi Memperebutkan Pasokan Vaksin

“Untuk memastikan agar Diplomasi Vaksin berhasil, ke manapun menlu Retno hadir dalam forum internasional termasuk yang pertemuan Menlu G20 di Italia, Menlu selalu membahas isu-isu kesehatan”.

Diplomasi yang dilakukan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di bawah komando Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi merupakan salah satu kunci penanganan pandemi COVID-19 di tanah air. Betapa tidak, sejak awal pandemi tahun lalu, Menlu Retno bersama
sejumlah menteri dalam Kabinet Kerja turut serta mengamankan pasokan vaksin COVID-19. Pasokan itu tidak hanya datang datang dari sisi komersial semata, melainkan juga bilateral dan multilateral via COVAX. Kendati demikian, semua itu bukannya tanpa tantangan. Sebab, ada situasi di mana negara-negara lain pun memperebutkan pasokan vaksin. Dalam CNBC Indonesia Economic Update yang tayang pada, Selasa (13/7/2021), Retno buka-bukaan perihal diplomasi Kemenlu RI di tengah pandemi COVID-19

Dalam keterangannya, Menlu menyampaikan bahwa berbagai upaya terus dilakukan untuk mengamankan pasokan vaksin dari berbagai produsen. Bersama Menteri BUMN (Erick Thohir) dan Menteri Kesehatan pada saat itu (Terawan Agus Putranto), Indonesia sudah mengamankan
lebih dari 100 juta dosis baik dari secara komersial namun juga ada dukungan dari bilateral dan melalui jalur multilateral via COVAX. Sejak 12 Juli Indonesia sudah memiliki 132.727.140 dosis vaksin yang terdiri dari Sinovac 118 juta. Ini paling banyak berbentuk bulk, kemudian AstraZeneca dari COVAX itu 8.228.400, kemudian dari Sinopharm ada 2 juta, kemudian AstraZeneca dari Jepang hampir 1 juta dan akan datang lagi 1 juta dan yang terakhir dari AS itu Moderna kurang lebih 3 juta yang dilewatkan melalui jalur COVAX.

Upaya mendapatkan pasokan vaksin memang banyak dinamikanya dan dinamika itu berdampak pada keterlambatan pasokan dan oleh karena itu Kemenlu mencari cara agar ketersediaan vaksin untuk masyarakat Indonesia tercukupi. Karena itu berbagai cara dilakukan termasuk, mencoba mekanisme dose sharing yang dilakukan Jepang dan AS. Di dalam konteks multilateral konsep dose sharing itu sudah dibahas dari awal. Jadi di awal pandemi kita sudah lakukan dua hal, yakni melakukan penggalangan dana sehingga bisa beli vaksin di pool kemudian dibagi kepada negara-negara yang berpenghasilan menengah ke bawah. Jadi uang untuk beli vaksin. Yang kedua, untuk negara-negara yang memiliki vaksin lebih banyak dari yang dibutuhkan penduduk maka sangat dianjurkan WHO agar kelebihan ini bisa dibagi melalui COVAX.

Untuk memastikan agar Diplomasi Vaksin berhasil, ke manapun menlu Retno hadir dalam forum internasional termasuk yang pertemuan Menlu G20 di Italia, Menlu selalu membahas isu-isu kesehatan. Jadi kesehatan merupakan hal yang utama dalam diplomasi. Dalam setiap momen
diplomasi tentu setiap negara pertama kali berjuang untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Ini kita lakukan. Contohnya kita berdiskusi dengan semua pihak terkait seperti produsen vaksin dan hal tersebut akhirnya menghasilkan hak-hal yang konkret dan substansial.[]

Don`t copy text!